Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan peluang pembalikan tren pelemahan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek hingga menengah tetap terbuka namun bergantung pada pemenuhan tiga syarat utama.
Pertama, tekanan global mereda, misalnya suku bunga Amerika Serikat (AS) tidak kembali meningkat atau dolar melemah. Kedua, kepercayaan domestik membaik melalui kejelasan langkah fiskal dan komunikasi kebijakan yang meyakinkan.
Ketiga, arus dana kembali masuk secara lebih stabil, kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Ia mengingatkan bahwa saat ini pasar menilai risiko rupiah cenderung ke arah melemah dan bahkan ada prediksi potensi bergerak melewati Rp17.000 per dolar AS bila sentimen tidak membaik. Sedangkan faktor musiman, seperti mendekati periode Ramadhan dan musim pembagian dividen, juga berpotensi menambah permintaan dolar.
“Karena itu, mitigasi bank sentral tidak cukup hanya mengandalkan langkah stabilisasi rutin di pasar valuta,” kata Josua.
Menurut dia, upaya intervensi tetap penting dilakukan untuk mencegah pelemahan yang terlalu cepat dan menjaga kepercayaan pasar, apalagi bank sentral dinilai sudah terlihat lebih aktif menahan pelemahan mendekati Rp17.000 per dolar AS, termasuk lewat penguatan komunikasi.
Tetapi, jelas Josua, akar masalahnya adalah premi risiko dan keyakinan pasar, sehingga BI perlu menjaga likuiditas rupiah agar pasar tidak panik, memastikan instrumen pengelolaan likuiditas mendukung stabilitas, memperkuat pasokan valas melalui koordinasi kebijakan devisa dan pengelolaan arus modal, serta yang paling krusial, mempertegas komitmen disiplin fiskal dan independensi pengambilan keputusan moneter agar persepsi risiko turun.
Secara umum, ia mencatat bahwa pelemahan rupiah yang kian mendekati Rp17.000 per dolar AS belakangan ini dibaca pelaku pasar sebagai gabungan sentimen global dan domestik.
“Dalam dua hari terakhir saja, rupiah sempat bergerak di kisaran 16.923 per dolar AS lalu menembus rekor terlemah sekitar 16.988 per dolar AS, sehingga level 17.000 menjadi jangkar psikologis yang sangat diperhatikan pasar,” katanya.
Dari sisi global, arah dolar dan suku bunga AS masih menjadi penentu utama karena memengaruhi arus dana ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ada fase ketika dolar melemah tipis, tetapi pasar tetap berhati-hati menunggu data ekonomi AS dan dinamika kebijakan AS yang meningkatkan ketidakpastian, sehingga permintaan safe haven asset mudah muncul lagi saat sentimen memburuk,” kata Josua menjelaskan.
Sementara itu, dari sisi faktor domestik, terdapat kekhawatiran pasar terhadap risiko pelebaran defisit dan kebutuhan pembiayaan program pemerintah, ditambah kekhawatiran soal persepsi independensi bank sentral setelah muncul isu penunjukan figur dekat kekuasaan ke jajaran bank sentral.
Kombinasi itu menaikkan premi risiko Indonesia, tercermin dari imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun yang naik sekitar 25 basis poin (bps) ke level 6,32 persen.
“Apakah ini alarm yang mengkhawatirkan? Secara arah, pasar memang sedang memberi sinyal kewaspadaan karena pelemahan nilai tukar yang disertai kenaikan imbal hasil menunjukkan ada unsur kekhawatiran kepercayaan, bukan sekadar faktor musiman,” ujar Josua.
Namun di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa hal itu belum automatis disebut krisis, karena fondasi makroekonomi Indonesia cenderung memiliki resiliensi di mana inflasi relatif terkendali dan cadangan devisa pada 2025 tercatat tinggi, sehingga daya tahan untuk meredam gejolak masih ada.
“Yang perlu dicermati justru kualitas respons kebijakan dan konsistensi stance kebijakan fiskal. Jadi jika pasar melihat arah kebijakan jelas dan disiplin terjaga, tekanan kurs biasanya lebih cepat mereda,” kata Josua.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







































