Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memandang peluang kenaikan laba industri perbankan pada 2026 lebih banyak ditentukan dua hal, yakni terkait biaya dana (cost of fund) dan risiko kredit.
Dari sisi biaya, menurut dia, saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin, kecepatan bank menurunkan biaya dana tanpa kehilangan dana pihak ketiga (DPK) menjadi faktor penentu.
Sementara, dari sisi risiko kredit, kualitas kredit terutama pada segmen rumah tangga dan UMKM perlu dijaga agar beban pencadangan tidak meningkat.
Josua menjelaskan kinerja laba perbankan menunjukkan gambaran yang cenderung moderat, seiring margin bunga bersih dan laba atas aset yang sudah sedikit menurun, sementara risiko kredit masih relatif terkendali.
Sebagaimana proyeksi Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit diperkirakan berada pada kisaran 8-11 persen pada 2025 serta 8-12 persen pada 2026.
Josua menilai proyeksi kredit pada tahun ini mengarah pada perbaikan bila pelonggaran kebijakan, insentif likuiditas, dan percepatan belanja pemerintah benar-benar menurunkan biaya dana dan mendorong aktivitas riil.
Berdasarkan data terakhir dari BI, kredit perbankan per November 2025 tumbuh sebesar 7,74 persen (year on year/yoy).
Josua menilai, ruang untuk mengejar target 8-11 persen sepanjang 2025 masih ada tetapi cenderung mengarah pada batas bawah, karena kenaikan kredit membutuhkan dorongan serentak dari sisi permintaan dan sisi penawaran.
"Bank Indonesia menekankan perlunya langkah bersama yakni menurunkan praktik bunga deposito special rate bagi deposan besar, memperkuat keyakinan dunia usaha dan perbankan, serta mempercepat belanja pemerintah agar konsumsi dan investasi riil naik," jelas Josua.
Ia juga mengingatkan hambatan utama terletak pada biaya dana yang turun terbatas karena bunga deposito khusus masih tinggi, sehingga suku bunga kredit sulit turun dan penyaluran kredit tidak seagresif yang diharapkan.
Dari sisi komposisi, Josua memperkirakan penopang utama pertumbuhan kredit lebih mungkin datang dari kredit investasi dan segmen korporasi, serta banyak dikontribusikan bank-bank BUMN.
Sedangkan, kredit rumah tangga dan UMKM, menurutnya, cenderung lebih tertahan karena kualitas dan permintaan yang belum pulih merata.
Berdasarkan data BI, kredit UMKM pada November 2025 tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,64 persen (yoy).
Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Desember 2025, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan peran kredit perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi perlu terus ditingkatkan.
Permintaan kredit terindikasi belum kuat dipengaruhi oleh perilaku wait and see dari pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, serta penurunan suku bunga kredit yang masih lambat.
Sementara, dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 29,67 persen dan DPK yang tumbuh sebesar 12,03 persen (yoy) pada November 2025.
Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan pada Oktober 2025 meningkat menjadi sebesar 26,38 persen.
Rasio yang tinggi ini menandakan bank semakin mampu untuk menyerap risiko.
Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah sebesar 2,25 persen (bruto) dan 0,90 persen (neto) pada Oktober 2025.
Namun, NPL (bruto) UMKM masih tinggi, yaitu sebesar 4,50 persen pada November 2025.
Baca juga: BI yakin kredit akhir tahun tumbuh 8 persen di tengah tren pelemahan
Baca juga: Ada SAL dan moneter longgar, BI minta bank cepat turunkan bunga
Baca juga: Ekonomi RI siap menguat seiring likuiditas stabil, moneter akomodatif
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





































