Jakarta (ANTARA) - PT Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation menghadirkan fitur retirement goal calculator atau kalkulator yang membantu masyarakat dalam menghitung kebutuhan dana pensiun, sejalan dengan kampanye “Pensiun Gak Susah”.
Kalkulator yang dapat diakses melalui website DBS ini dirancang untuk membantu individu memahami gambaran kebutuhan finansial di masa depan, tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan di usia pensiun.
“Kalkulator ini tidak hanya mencatatkan kebutuhan-kebutuhan dasar, tetapi juga memasukkan biaya-biaya lifestyle. Jadi di sini kita bisa melihat dan merencanakan kehidupan seperti apa yang akan dipunyai di usia pensiun,” kata Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika di Jakarta, Senin.
Sejalan dengan misi Bank DBS Indonesia, alat ini mencerminkan upaya bank dalam menyederhanakan berbagai aspek perbankan dan perencanaan keuangan, sehingga masyarakat dapat lebih fokus menikmati hidup serta mempersiapkan masa depan dengan lebih tenang dan percaya diri.
Baca juga: DBS: Stabilitas ekonomi makro Indonesia lebih baik dari tahun lalu
Mona mengingatkan bahwa perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan.
Menurutnya, pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan.
“Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua, salah satunya melalui panduan dan wawasan menyeluruh untuk membantu masyarakat merencanakan pensiun secara holistik, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia,” kata Mona.
Masa pensiun merupakan fase ketika pendapatan aktif berkurang, sehingga perencanaan dana pensiun perlu mencakup pertumbuhan dana sekaligus perlindungan terhadap berbagai risiko.
Baca juga: DBS dan Mandiri Investasi kerja sama perluas akses investasi emas
Head of Investment & Insurance Product, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo memandang bahwa pengelolaan investasi yang disertai perlindungan asuransi berperan dalam menjaga daya beli dan aset nasabah, terutama dalam menghadapi berbagai risiko di masa pensiun.
“Sebagai mitra terpercaya dalam manajemen kekayaan, Bank DBS Indonesia berkomitmen mendampingi nasabah di setiap fase kehidupan melalui solusi perbankan yang mendukung kesiapan pensiun,” kata Djoko.
Menurut DBS, urgensi perencanaan pensiun yang menyeluruh ini juga tercermin dalam perubahan demografi global.
Merujuk laporan DBS Chief Investment Office (CIO) Insights bertajuk “Ekonomi Umur Panjang”, harapan hidup manusia tercatat meningkat secara tajam dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun saat ini.
Baca juga: 6 cara kelola dana pensiun dengan baik agar hidup sejahtera
Lonjakan ini dinilai tidak hanya akan mendorong peningkatan pengeluaran untuk pengobatan penyakit terkait usia, tetapi juga memperkuat permintaan akan layanan kesehatan dan sistem pensiun yang lebih matang.
Menurut DBS, perubahan tren ini membuka peluang strategis untuk mengembangkan silver economy, yaitu aktivitas ekonomi yang fokus pada pemenuhan kebutuhan sekaligus pemberdayaan kelompok lansia.
Ekosistem ini mencakup berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan, perumahan, dan transportasi, hingga teknologi dan gaya hidup, yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia.
Kondisi ini, catat DBS, menempatkan ekonomi lansia pada titik infleksi, didorong oleh kemajuan teknologi medis, aliran modal yang meningkat, serta tren penuaan populasi yang semakin nyata.
Baca juga: 5 ide bisnis saat pensiun, kuliner hingga toko kelontong
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







































