Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) terus menjaga stabilitas rupiah ketika terjadi tekanan outflow dengan melakukan langkah stabilisasi di pasar surat berharga negara (SBN) guna memastikan imbal hasil (yield) tetap seimbang dan aset rupiah tetap menarik di tengah persaingan global yang ketat.
“Pada saat terjadi outflow yang cukup besar di SBN beberapa hari yang lalu, Bank Indonesia masuk step in supaya yield itu tetap terjaga. Dalam artian, tidak terlalu naik tinggi dan tidak terlalu rendah,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam acara Outlook Ekonomi 2026 di Jakarta, Selasa.
Di samping itu, dalam penyelenggaraan operasi moneter, Destry menegaskan komitmen BI untuk tetap berada di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam hal ini, BI secara konsisten menerapkan smart intervention melalui pasar spot, non-deliverable forward (NDF) di luar negeri, serta domestic non-deliverable forward (DNDF).
Menurut Destry, gejolak pasar merupakan hal yang wajar di tengah dinamika global yang masih tinggi. Namun demikian, ia mencatat arus modal yang menunjukkan perbaikan.
Baca juga: BI: Cadangan devisa Januari 2026 turun efek utang dan stabilkan rupiah
Setelah sepanjang 2025 mencatat outflow sebesar Rp126,49 triliun, dalam beberapa hari terakhir arus dana asing mulai kembali masuk, baik di pasar Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), maupun saham.
Adapun secara year to date (YTD) hingga 6 Februari 2026, tercatat inflow sebesar Rp15,44 triliun, terutama ke pasar SBN dan SRBI.
Destry mengingatkan bahwa tekanan volatilitas saat ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melanda berbagai mata uang global dan regional seiring tingginya ketidakpastian global.
Dalam kondisi tersebut, rupiah juga mengalami dinamika yang sama. Ketidakpastian global mendorong investor untuk lebih selektif dan cenderung mencari instrumen safe haven termasuk obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan emas.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








































