Washington (ANTARA) - Utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Rabu, mengumumkan dimulainya fase kedua rencana gencatan senjata di Gaza, dengan fokus pada demiliterisasi, pembentukan pemerintahan teknokrat, dan rekonstruksi wilayah yang hancur akibat perang.
“Fase kedua membentuk pemerintahan transisi Palestina yang bersifat teknokrat di Gaza, yakni Komite Nasional Administrasi Gaza, serta memulai demiliterisasi penuh dan rekonstruksi,” kata Steve Witkoff dalam pernyataan di platform X.
Ia mengatakan demiliterisasi mencakup perlucutan senjata seluruh personel bersenjata yang tidak berwenang, sebagai bagian dari upaya menstabilkan Gaza pascagencatan senjata dan menciptakan fondasi bagi pemerintahan sipil yang berfungsi.
Witkoff menegaskan Amerika Serikat mengharapkan Hamas sepenuhnya mematuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan, termasuk “pemulangan segera sandera terakhir yang telah meninggal dunia”.
“Kegagalan untuk mematuhi kewajiban tersebut akan membawa konsekuensi serius,” tambahnya, tanpa merinci bentuk langkah yang akan diambil Washington jika ketentuan dilanggar.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Turkiye, Mesir, dan Qatar atas “peran mediasi yang sangat penting” yang memungkinkan kemajuan sejauh ini dalam proses gencatan senjata Gaza.
Sebelumnya pada Rabu, kelompok-kelompok Palestina menyatakan dukungan terhadap pembentukan badan administrasi transisi untuk Gaza dan mendesak langkah cepat agar lembaga itu segera mengambil alih pemerintahan.
Baca juga: Israel cabut izin, UNRWA: Gaza butuh bantuan, bukan pembatasan
Sikap tersebut disampaikan dalam pernyataan bersama setelah pertemuan di Kairo yang digelar atas undangan Mesir dan berada di bawah naungan Presiden Abdel Fattah al-Sisi, ungkap media pemerintah Al-Qahera News.
Kelompok-kelompok itu menekankan perlunya menciptakan kondisi yang memungkinkan badan transisi segera memikul tanggung jawab penuh atas pengelolaan kehidupan sehari-hari di Gaza, termasuk layanan publik penting.
Mereka menyatakan badan tersebut akan bekerja sama dengan sebuah “dewan perdamaian” dan komite eksekutifnya, yang diharapkan mengawasi persetujuan serta pelaksanaan rekonstruksi Gaza.
Warga Palestina menuduh Israel berulang kali melanggar gencatan senjata yang menghentikan perang di Gaza, konflik yang sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 71.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Perang tersebut juga menyebabkan lebih dari 171.000 orang terluka, kata otoritas kesehatan Palestina. Perang genosida Israel itu tercatat sebagai salah satu konflik paling mematikan dalam sejarah terbaru wilayah itu.
Sejak gencatan senjata berlaku, hampir 450 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 1.200 lainnya terluka akibat serangan Israel, kata Kementerian Kesehatan Gaza.
Israel juga dituduh menolak membuka kembali penyeberangan Gaza, meski Dewan Keamanan PBB pada November 2025 mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata permanen, bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, dan rekonstruksi wilayah tersebut.
Sumber: Anadolu
Baca juga: PM Anwar sebut Malaysia akan terlibat langsung dalam misi Sumud Gaza
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 week ago
11






































