Perkebunan Muntok White Pepper atau lada Bangka Belitung.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dikenal sebagai "Emas Putih" dari timur, Lada Putih Bangka atau Muntok White Pepper bukan sekadar bumbu dapur biasa, melainkan legenda aroma yang telah melintasi samudra selama berabad-abad. Butirannya yang mungil menyimpan ledakan rasa pedas yang elegan dan aroma tajam yang tak tertandingi, menjadikannya primadona yang selalu dicari oleh para koki kelas dunia dan industri kuliner global yang rela membayar mahal demi kualitas autentiknya.
Siapa sangka, di balik ketatnya persaingan pasar rempah dunia pada 2026, lada putih asal Kepulauan Bangka Belitung justru mencatatkan angka ekspor yang membuat mata terbelalak. Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kepulauan Bangka Belitung melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025, sebanyak 1,37 ribu ton lada putih telah "terbang" ke mancanegara dengan nilai ekonomi menembus Rp180 miliar, sebuah bukti nyata bahwa kelezatan lada lokal masih menjadi penguasa di lidah internasional.
Kekhasan utama Muntok White Pepper terletak pada tingkat kepedasan yang tinggi serta kandungan piperin yang lebih pekat dibandingkan lada putih dari daerah atau negara lain. Hal ini tidak lepas dari kondisi geografis Bangka Belitung yang memiliki tanah podsolik merah kuning dengan kandungan mineral spesifik yang menyatu sempurna dengan teknik pengolahan tradisional masyarakat setempat. Proses perendaman di air mengalir yang dilakukan secara turun-temurun memastikan kulit lada terkelupas sempurna tanpa merusak inti bijinya, sehingga menghasilkan warna putih bersih yang alami.
Negara-negara seperti Vietnam, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Taiwan sangat menyukai produk ini karena aroma "earthy" yang khas dan kemampuannya untuk memperkuat rasa masakan tanpa mengubah warna hidangan. Di pasar Jepang misalnya, standar keamanan pangan yang sangat ketat dapat ditembus oleh lada ini karena kualitasnya yang konsisten dan tingkat residu kimia yang minim. Bagi industri kuliner asing, menggunakan lada putih Muntok adalah jaminan prestise dan keaslian rasa dalam setiap sajian yang mereka hidangkan.
Data dari Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology) menunjukkan frekuensi pengiriman ekspor mencapai 184 kali sepanjang 2025. Tidak hanya berjaya di pasar global, pasar domestik pun tak kalah bergairah. Lalu lintas lada putih antarwilayah di Indonesia tercatat mencapai 6.323 ton dengan nilai nominal fantastis sebesar Rp535,89 miliar. Angka-angka ini menjadi sinyal positif bahwa komoditas rempah unggulan ini tetap menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan di Bangka Belitung.
Kepala BKHIT Babel, Herwintarti, menegaskan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari komitmen melalui program Go Ekspor. Program ini merupakan inisiatif strategis pemerintah untuk mendorong pelaku usaha, khususnya UMKM, agar mampu menembus dan memperluas jangkauan pasar internasional secara berkelanjutan. Fokus utamanya adalah penguatan kesiapan ekspor dari hulu hingga hilir melalui pendampingan teknis dan pengawasan karantina yang ketat guna memenuhi standar sanitari dan fitosanitari dunia.
sumber : Antara

1 day ago
3






































