REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syekh Abu Abdullah Musthafa al-‘Adawy dalam karyanya, Fikih Akhlak, menjelaskan perihal keikhlasan. Dalam bahasa Arab, kata ikhlash berakar dari khalasha yang berarti ‘jernih’ atau ‘suci dari campuran dan pencemaran.’
Dalam konteks amal ibadah, seseorang dianggap telah ikhlas apabila ia beramal karena Allah saja. Seorang yang ikhlas (mukhlis) akan menghindari pujian dan perhatian makhluk, serta membersihkan amal perbuatan yang dilakukannya dari setiap yang mencemarkan.
Menurut al-‘Adawy, salah satu faktor kesuksesan dalam konsistensi akhlak ialah ikhlas. “Jika Anda memberi, maka berilah hanya karena Allah. Jika Anda mencintai, maka cintailah hanya karena Allah, dan jika Anda membenci, bencilah karena Allah,” tulisnya.
Allah menjanjikan balasan yang besar bagi mereka yang ikhlas menderma. “Orang yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak ia akan mendapatkan kesenangan (yang sempurna)” (QS al-Lail: 18-21).
Sebaliknya, ancaman siksa yang besar dialamatkan kepada mereka yang tidak ikhlas. Ketidaktulusan itu tetap menjadi faktor pembeda di hadapan Allah. Walaupun seseorang semasa hidupnya dikenal sebagai Muslim yang berakhlak mulia, ganjaran surga belum tentu dapat diperolehnya selama jauh dari ridha Illahi.
Kisah syuhada, ulama dan dermawan
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sungguh, orang pertama yang akan diputuskan pada hari Kiamat kelak adalah seorang yang mati syahid. Ia dihadapkan kepada Allah dan diingatkan akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya, dan hal itu diakuinya. Kemudian Allah berfirman, ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan (nikmat) itu semua?’
Jawabnya, ‘Aku telah berperang untuk Engkau hingga mati syahid.’
Allah berfirman, ‘Kamu berdusta. Kamu berperang untuk dikenal sebagai pahlawan yang gagah berani.’ Lantas, ia diseret ke dalam api neraka.
Orang yang kedua dihadapkan kepada Allah. Ia adalah orang yang belajar ilmu agama dan mengajarkannya, serta pandai membaca Alquran. Maka diberitakan tentang nikmat-nikmat yang telah ia peroleh dan ia mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan (nikmat) itu semua?’
Jawab orang itu, ‘Aku telah belajar ilmu, mengajarkannya, serta membaca Alquran untuk Engkau.’
Allah berfirman, ‘Kamu berdusta. Kamu belajar ilmu agar mendapat gelar alim, membaca Alquran agar mendapat gelar qari.’ Kemudian diperintahkan kepada malaikat untuk mencampakkannya ke dalam api neraka.
Orang ketiga yang dihadapkan kepada Allah adalah ia yang diluaskan rezekinya dan hidup kaya (semasa di dunia). Maka diberitakan kepadanya tentang nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah berfirman, ‘Apa yang telah kamu lakukan dengan (nikmat) itu semua?’
Jawab orang itu, ‘Aku selalu mendermakannya demi Engkau di jalan yang Engkau sukai.’ Allah berfirman, ‘Kamu berdusta. Kamu mendermakan harta agar disebut dermawan, dan telah dikenal begitu di dunia.’ Maka Allah memerintahkan malaikat untuk melemparkan orang itu ke dalam neraka.”

14 hours ago
3






































