Daffa Nabil Mubarak
Sastra | 2026-01-23 15:45:43
Cerpen ini mengisahkan perjalanan intelektual dan spiritual dua mahasiswa sains, Bram dan Siska, di pesisir Pantai Parangtritis. Konflik bermula ketika Siska, dengan ego akademisnya, mengabaikan kearifan lokal tentang larangan mengenakan pakaian berwarna hijau dan memilih memakai outer hijau lumut demi membuktikan bahwa mitos tersebut hanyalah urban legend. Namun, perdebatan logika mereka seketika berubah menjadi perjuangan hidup dan mati saat Siska terseret oleh kekuatan arus rip current.
Melalui peristiwa mencekam tersebut, narasi ini membedah mitos penguasa laut selatan bukan sebagai takhayul semata, melainkan sebagai bentuk risk management tradisional yang selaras dengan prinsip fisika. Penjelasan mengenai refraction, wavelength, serta fenomena Purkinje shift menjadi jembatan yang menghubungkan antara narasi mistis Nyi Roro Kidul dengan realitas ilmiah mengenai optical camouflage. Cerpen ini membawa pesan mendalam tentang pentingnya cultural intelligence dan kerendahan hati manusia di hadapan spektrum alam yang mahaluas, membuktikan bahwa sains dan kearifan lokal sering kali merupakan dua bahasa berbeda yang membicarakan kebenaran yang sama.
Matahari baru saja tergelincir ke ufuk barat, menciptakan semburat jingga yang kontras dengan pekatnya Samudra Hindia. Di bibir Pantai Parangtritis, angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam yang menusuk indra penciuman. Bram berdiri mematung, menatap gulungan ombak yang menderu layaknya raksasa yang sedang gelisah. Di sampingnya, Siska sibuk merapikan outer berbahan linen warna hijau lumut yang ia kenakan, mengabaikan tatapan cemas dari beberapa penduduk lokal yang melintas.
"Siska, aku serius. Lebih baik kamu ganti baju itu sekarang sebelum kita jalan lebih jauh ke arah laguna," ujar Bram dengan nada rendah, matanya tak lepas memantau garis imajiner yang konon menghubungkan pantai ini dengan Keraton dan Gunung Merapi.
Siska tertawa kecil, suara tawanya nyaris tenggelam oleh suara deburan breakwater. "Bram, hari gini kamu masih percaya takhayul? Kita ini mahasiswa sains, bukan sedang syuting film horor kolosal. Nyi Roro Kidul tidak akan mendadak muncul dari buih ombak hanya karena aku pakai warna favoritnya, kan?"
"Ini bukan soal berani atau tidak, Sis. Ini soal respect terhadap narasi lokal," balas Bram cepat. Ia teringat jurnal yang baru dibacanya tentang Rational Emotive Therapy dalam budaya Jawa. "Masyarakat di sini meyakini garis imajiner itu sebagai simbol filosofis hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Hijau dianggap sakral, milik sang penguasa laut selatan. Jika kamu melanggarnya, mereka percaya kamu akan 'diambil' untuk menjadi bagian dari kerajaannya di bawah sana."
Siska menghentikan langkahnya, menatap hamparan air laut yang dari kejauhan tampak berwarna hijau gelap akibat pantulan ganggang dan kedalaman air. "Ditarik ke bawah laut dan tidak akan pernah ditemukan lagi? Itu terdengar seperti urban legend untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak berenang terlalu jauh, Bram."
"Mungkin terdengar seperti mitos, tapi ada alasan yang jauh lebih logis di balik larangan itu," Bram menghela napas, berusaha mencari celah agar logika Siska bisa menerima. "Kamu lihat warna air itu? Di bawah sana, spektrum cahaya bekerja dengan cara yang berbeda. Hijau bukan sekadar warna kesukaan sang ratu, tapi itu adalah warna kamuflase yang paling berbahaya di medan ini."
Siska menaikkan sebelah alisnya, mulai tertarik. "Maksudmu?"
"Pantai Selatan punya karakteristik ombak yang ganas dengan arus rip current yang mematikan. Jika terjadi sesuatu—dan aku sangat berharap tidak—baju hijau itu akan menjadi musuh terbesarmu. Di mata tim Search and Rescue (SAR), kamu akan melebur dengan warna air laut. Kamu akan menjadi transparan di tengah luasnya samudra," jelas Bram tajam, matanya menatap lurus ke arah Siska yang mulai terdiam melihat buih ombak menyapu kakinya.
Siska terdiam sejenak, namun ego intelektualnya lebih cepat menguasai keadaan. Ia melangkah lebih dekat ke zona swash, tempat air laut menipis dan berbuih. "Argumen yang menarik, Bram. Tapi probabilitas terjadinya rip current di titik ini sedang rendah berdasarkan data forecast yang kubaca pagi tadi," sahutnya sembari merentangkan tangan, membiarkan outer hijau lumutnya berkibar ditiup angin laut yang kian kencang.
Tiba-tiba, sebuah suara berat memecah argumen mereka. "Nduk, hati-hati. Laut sedang tidak ingin bercanda," seorang pria tua dengan caping usang mendekat. Matanya tertuju tajam pada pakaian Siska. "Warna itu... sebaiknya jangan ditantang. Di sini, apa yang tidak terlihat oleh mata justru yang paling berkuasa."
Siska tersenyum sopan namun tetap keras kepala. "Terima kasih, Pak. Tapi saya hanya sebentar di sini."
Begitu pria itu menjauh, Siska menoleh ke arah Bram. "Lihat? Bahkan penduduk lokal pun hanya bicara soal mistis. Mereka tidak paham soal refraksi cahaya atau wavelength."
"Justru itu poinnya, Sis! Mitos adalah cara mereka mengemas keselamatan dalam balutan cerita yang ditakuti," Bram mencoba meraih lengan Siska. "Ayo kembali ke area yang lebih aman. Air sudah mulai pasang."
Namun, alam seolah ingin membuktikan teori Bram dalam hitungan detik. Tanpa peringatan, sebuah gelombang besar menghantam sandbar di depan mereka. Air tidak pecah menjadi buih, melainkan meluncur deras seperti lidah raksasa yang menjilat daratan.
"Siska, mundur!" teriak Bram.
Terlambat. Kaki Siska terperosok ke dalam cekungan pasir yang mendadak amblas akibat fenomena backwash. Tubuhnya goyah, dan sebelum ia sempat meraih tangan Bram, arus seret atau rip current yang tersembunyi di balik ketenangan permukaan air menariknya dengan kekuatan ribuan ton.
"Bram!" jerit Siska. Suaranya tertelan gemuruh ombak yang meledak di sekitar telinganya.
Dalam sekejap, Siska terseret sepuluh meter dari bibir pantai. Ia mencoba melakukan treading water, namun pakaian linen hijaunya yang basah menjadi sangat berat, membebani gerakannya layaknya belenggu besi. Dari sudut pandang Bram di daratan, pemandangan itu mengerikan. Spektrum warna hijau pada baju Siska secara optik menyatu sempurna dengan air laut yang kaya akan fitoplankton dan pantulan emerald dari kedalaman.
"Siska! Jangan melawan arus! Berenang paralel dengan garis pantai!" terak Bram sekencang mungkin, namun ia tahu Siska dalam bahaya besar.
Bram berlari mencari pertolongan, matanya menyisir laut dengan panik. Di sinilah teori ilmiah itu menjadi nyata dan mematikan. Di bawah pencahayaan sore yang mulai meredup, mata manusia mengalami Purkinje shift, di mana sensitivitas terhadap warna merah menurun dan warna hijau serta biru mulai mendominasi penglihatan. Siska, dengan baju hijau lumutnya, benar-benar menjadi invisible di mata siapapun yang mencoba mencarinya dari kejauhan.
"Tolong! Ada yang terseret arus!" teriak Bram kepada petugas Life Guard yang bersiaga.
Petugas berbaju oranye itu segera mengarahkan teropong binokularnya ke arah laut. "Di mana? Saya tidak melihat objek!"
"Di sana! Dekat pusaran air!" jari Bram menunjuk kalap ke arah titik di mana Siska berada.
"Sulit sekali! Warnanya terlalu menyatu dengan air!" petugas itu memaki pelan sembari berlari menuju perahu penyelamat.
Di tengah laut, Siska mulai kehilangan tenaga. Panik mulai mengaburkan logika sainsnya. Setiap kali ia berusaha melambaikan tangan, kain hijaunya justru membuatnya tampak seperti sekadar rumput laut yang terombang-ambing. Ia teringat ucapan Bram: Kamu akan menjadi transparan di tengah luasnya samudra.
"Aku bukan ditarik Nyi Roro Kidul," batin Siska di tengah sisa-sisa kesadarannya, "tapi aku sedang dibunuh oleh spektrum warnaku sendiri."
Detik berganti menjadi menit yang terasa seperti keabadian. Bram berdiri di bibir pantai dengan jantung yang berdegup melampaui ritme ombak. Di kejauhan, petugas Life Guard berjuang melawan breaking waves yang menghantam hull perahu karet mereka. Pandangan mereka menyapu permukaan laut yang kini sepenuhnya berubah menjadi zamrud gelap akibat sisa cahaya matahari yang menghilang.
"Posisinya hilang! Saya kehilangan visual!" teriak salah satu petugas melalui handy talky, suaranya parau tertutup angin.
"Tetap di koordinat jam dua! Dia memakai baju hijau lumut!" balas Bram dengan teriakan putus asa yang menyakitkan tenggorokan.
"Itu masalahnya, Mas! Hijau di atas air hijau itu mustahil terlihat dari sini!" sahut petugas lainnya sembari terus memicingkan mata.
Di tengah laut, Siska merasakan hypothermia mulai merayap ke sumsum tulangnya. Ia mencoba berteriak, namun air asin kembali masuk ke dalam kerongkongannya. Ia teringat penjelasan Bram tentang Purkinje shift. Di bawah cahaya twilight yang meredup, matanya sendiri mulai gagal membedakan batas antara lengan bajunya dan air yang mengepungnya. Secara optik, ia telah tereliminasi dari dunia atas.
"Tolong... siapa pun..." rintih Siska, suaranya kini hanya berupa bisikan lemah. Tubuhnya terasa berat, outer linen itu kini menyerap air layaknya spons, menciptakan beban tambahan yang menariknya ke dasar abyss.
Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya dari menara pemant...

3 hours ago
2





























