Moskow (ANTARA) - Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev, Jumat (9/1) menyatakan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro merupakan sebuah bencana dalam ranah hubungan internasional.
“Tahun ini dimulai dengan penuh gejolak. Yang terutama akan dikenang dari awal tahun ini adalah penculikan Maduro. Tentu saja ini merupakan tindakan lancang dan tercela, atau jika diungkapkan secara lebih lugas, sebuah bencana universal dalam hubungan internasional,” tulis Medvedev melalui akun Telegram-nya.
Ia menyebutkan terdapat dua skenario yang mungkin terjadi terhadap Maduro dalam waktu dekat.
“Hari ini hanya ada dua skenario. Pertama, Amerika Serikat secara diam-diam membebaskan presiden Venezuela yang diculik dengan alasan yang masuk akal, meski kemungkinannya sangat kecil," kata Medvedev.
"Kedua, ia akan menjadi Mandela baru dari Amerika Latin, yang paling mungkin terjadi. Namanya kemudian akan tercatat dalam sejarah Amerika Selatan sejajar dengan Bolivar, Miranda, dan Chavez,” katanya menambahkan.
Menurut Medvedev, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance atau penerus Presiden AS Donald Trump pada akhirnya akan memberikan pengampunan kepada Maduro di bawah tekanan publik.
Ia juga menilai bahwa minyak menjadi faktor utama di balik tindakan Amerika Serikat di Venezuela, namun persoalan tersebut tidak akan mudah diselesaikan.
Pejabat Rusia itu menambahkan, jika Amerika Serikat melancarkan operasi darat di Venezuela, langkah itu akan jauh lebih berdarah dibandingkan dengan penculikan Maduro.
“Ya, minyak merupakan faktor kunci. Namun, bahkan itu pun tidak akan mudah. Bagaimana jika otoritas Venezuela saat ini enggan membagikan minyaknya kepada Amerika Serikat dalam waktu lama?" katanya.
"Apakah Trump benar-benar akan melancarkan operasi darat? Kongres pasti akan dilibatkan, dan itu akan jauh lebih berdarah dibandingkan penculikan Maduro yang terang-terangan,” kata Medvedev, seraya menyatakan keraguannya bahwa pemerintahan AS saat ini menginginkan skenario tersebut.
Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, lalu membawa keduanya ke New York.
Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam “narkoterorisme” serta dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi Amerika Serikat.
Pemerintah Venezuela di Caracas meminta digelarnya pertemuan darurat PBB terkait operasi Amerika Serikat tersebut.
Mahkamah Agung Venezuela kemudian mengalihkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang secara resmi dilantik sebagai presiden sementara di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari.
Rusia, China, dan Korea Utara mengecam keras tindakan Amerika Serikat.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritasnya kepada rakyat Venezuela serta menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya, sekaligus meminta agar eskalasi lebih lanjut dapat dicegah.
Sumber: Sputnik/RIA-Novosti-OANA
Baca juga: Ketahui 6 fakta menarik terkait negara Venezuela
Baca juga: Rakyat Venezuela unjuk rasa tuntut pembebasan Presiden Maduro
Baca juga: Situasi Venezuela tetap tenang usai serangan AS dan penculikan Maduro
Penerjemah: Primayanti
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

18 hours ago
5





































