Puisi sebagai Teriakan Perlawanan terhadap Penindasan

1 month ago 22
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi Foto Monokrom Rambu Resist. Sumber: Pexels.

Puisi tidak selalu bicara tentang keindahan. Dalam sejarah sastra Indonesia, puisi sering hadir sebagai teriakan protes, sebagai suara orang-orang yang selama ini diabaikan, dan sebagai bentuk terhadap penindasan. Dalam pendekatan sosiologi sastra, puisi dapat dilihat sebagai cermin sekaligus kritik atas kondisi sosial yang terjadi di masyarakat. Hal ini tampak jelas dalam puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan “Kau” karya Nuke Hanasasmit. Meski lahir dari konteks zaman yang berbeda, keduanya sama-sama menempatkan puisi sebagai alat kritik sosial, untuk menyoroti penindasan yang berlangsung, baik melalui sistem kekuasaan maupun melalui sikap dan moral para penguasa.

Menurut Wellek dan Warren sebagai tokoh yang membahas teori sosiologi sastra menyatakan bahwa kajian sosiologi sastra mencakup tiga aspek utama, dalam bukunya yang berjudul theory of literature, yaitu: sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra, dan sosiologi pembaca. Namun, dalam artikel ini hanya menggunakan dua aspek yaitu sosiologi pengarang dan sosiologi karya sastra. Status sosial pengarang memiliki peran penting dalam membentuk tema, sudut pandang, dan sikap karya sastra yang dihasilkannya. Latar belakang sosial, pengalaman hidup, serta kedudukan pengarang dalam masyarakat memengaruhi cara ia melihat dan merepresentasikan realitas sosial. Hal ini tampak jelas dalam puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan puisi “Kau” karya Nuke Hanasasmit.

Penulis menilai terdapat hubungan aspek status sosial pengarang dengan tema puisi. Setelah membaca dan memahami isi puisi, ditemukan dua tema utama dalam puisi “Tembok dan Tenbok” dan “Kau” yang saling berkaitan, yaitu penindasan dan ketidakadilan sosial karena kedua puisi menggambarkan kondisi rakyat kecil yang hak-haknya dirampas dan penderitaannya diabaikan oleh pihak berkuasa. Selain itu, perlawanan dan harapan akan perubahan pada puisi “Bunga dan Tembok” menegaskan perlawanan kolektif terhadap tirani, sedangkan puisi “Kau” menampilkan perlawanan moral dan keyakinan akan keadilan.

Ilustrasi Foto Close Up Jurnal Putih Dan Hitam. Sumber: Pexels.

Rasa dalam puisi “Bunga dan Tembok” adalah marah dan berani melawan, sedangkan puisi “Kau” menampilkan rasa pedih dan kecewa akibat ketidakadilan dan ketidakpedulian penguasa. Nada dalam kedua puisi sama-sama tegas dan kritis. Puisi “Bunga dan Tembok” bernada menantang dan penuh keyakinan terhadap perlawanan, sedangkan puisi “Kau” bernada menggugat dan menyentuh nurani melalui bahasa yang lugas dan emosional. Nada puisinya yang penuh semangat menunjukkan upaya untuk membangkitkan kesadaran dan kepekaan sosial pembaca terhadap realitas yang terjadi di sekitarnya. Penulis juga menemukan amanat yang terkandung dalam kedua puisi tersebut. Pada puisi “Bunga dan Tembok” dan “Kau”, tersampaikan pesan agar masyarakat tidak diam menghadapi penindasan dan ketidakadilan. Kedua puisi ini mengajak pembaca untuk peka terhadap penderitaan rakyat kecil, berani bersuara, serta menjaga nurani dan keadilan dalam kehidupan sosial.

Ilustrasi Kaki di Rantai. Sumber: Pexels.

Puisi “Bunga dan Tembok” merupakan karya Wiji Thukul yang membahas mengenai penindasan terhadap rakyat kecil oleh kekuasaan, khususnya perampasan ruang hidup dan hak-hak masyarakat atas nama pembangunan. Puisi ini menggambarkan konflik antara kaum tertindas dan penguasa, serta menegaskan semangat perlawanan dan keyakinan bahwa tirani pada akhirnya akan tumbang. Wiji Widodo, yang lebih dikenal sebagai Wiji Thukul seorang penyair Indonesia yang dikenal berani menyuarakan kehidupan rakyat kecil dan mengkritik kekuasaan. Ia lahir di kampung Sorogenen, Solo, pada 26 Agustus 1963 dan dibesarkan dalam lingkungan sederhana yang membentuk kepeduliannya terhadap kaum tertindas. Pada masa Orde Baru, puisi-puisinya dianggap berbahaya karena berani mengungkap penindasan dan ketidakadilan, hingga akhirnya ia menghilang secara paksa pada tahun 1998. Status sosialnya sebagai bagian dari masyarakat tertindas membuat puisinya berpihak secara tegas pada kaum marginal.

Dalam puisi “Bunga dan Tembok”, Wiji Thukul menggambarkan rakyat kecil sebagai “bunga” yang keberadaannya tidak dikehendaki oleh penguasa. Gambaran ini tampak jelas dalam larik:

Larik tersebut merefleksikan pengalaman sosial penyair yang menyaksikan secara langsung bagaimana rakyat sering kali disingkirkan atas nama pembangunan. Kekuasaan digambarkan sebagai “tembok” yang kaku dan menutup ruang hidup rakyat, lebih mementingkan kepentingan material dan proyek fisik dibandingkan kehidupan manusia, sebagaimana terlihat dalam larik:

Namun, sebagai penyair yang berpihak pada rakyat kecil, Wiji Thukul tidak berhenti pada kritik semata. Ia juga menanamkan semangat perlawanan kolektif sebagai wujud kesadaran sosial kaum tertindas. Hal ini tercermin dalam larik:

Kutipan ini menegaskan keyakinan bahwa penindasan tidak akan mematikan perjuangan, melainkan justru menumbuhkan perlawanan yang pada akhirnya akan meruntuhkan tirani.

Sementara itu, puisi “Kau” karya Nuke Hanasasmit juga lahir dari kepedulian terhadap realitas sosial masyarakat kecil. Posisi sosial pengarang sebagai pengamat sekaligus penyuarakan penderitaan rakyat tercermin melalui penggunaan kata ganti “kami” dan “kau”, yang mempertegas jarak kelas sosial. Kata “kami” mewakili rakyat pekerja yang hidup dalam keterbatasan, sebagaimana tergambar dalam larik: