Hal tersebut terungkap dari sistem surveilans nasional hingga akhir tahun 2025. Juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), drg Widyawati, menjelaskan temuan tersebut berasal dari laporan 88 sentinel influenza like illness (ILI) dan severe acute respiratory infections (SARI) yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka meliputi puskesmas, balai kesehatan, dan rumah sakit.
Meski istilah “super flu” kini ramai diperbincangkan di masyarakat, para ahli menegaskan sebutan tersebut bukan istilah ilmiah resmi. Secara medis, kondisi yang disebut super flu umumnya merujuk pada infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza tertentu atau virus pernapasan lain, seperti rhinovirus, adenovirus, atau respiratory syncytial virus (RSV).
Gejala yang muncul bisa berupa demam tinggi, batuk, pilek berat, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan ekstrem, hingga gangguan pencernaan pada sebagian pasien.
Menurut James Hay, Peneliti Rekanan, Pemodelan Penyakit Menular di Oxford University, tingkat penyebaran virus dan tingkat keparahan penyakit super flu ini masih berada dalam kategori normal.
Virus influenza memang terus berevolusi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Itulah sebabnya vaksin flu harus diperbarui secara berkala. Dalam tahun-tahun tertentu, mutasi virus bisa lebih signifikan, dengan perubahan besar biasanya terjadi setiap empat hingga lima tahun.
Subtipe flu yang dominan tahun ini adalah influenza A (H3N2) subclade K, yang sebenarnya sudah ada sejak 1968 dan telah mengalami banyak perubahan dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, fenomena yang disebut “super flu” sebenarnya muncul setiap beberapa tahun sekali.
Apa Bedanya Super Flu dengan Flu Biasa?
Data terbaru CDC mengindikasikan strain H3N2, khususnya subvarian K, menjadi varian dominan di AS dan dinilai lebih menular dibandingkan strain flu lainnya. Saat ini, H3N2 menyumbang hampir 90 persen dari seluruh kasus flu yang dilaporkan di AS.
“Jelas terlihat varian ini mengungguli strain flu lainnya, yang mengindikasikan tingkat penularannya lebih tinggi,” ujar Dr. David Weber, spesialis penyakit menular dari UNC Health, kepada The Observer.
Sejumlah penelitian dan laporan pemantauan juga menunjukkan musim flu yang didominasi H3N2 cenderung dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah, serta angka rawat inap dan kematian yang lebih tinggi, terutama pada kelompok lanjut usia. Dampaknya dinilai lebih berat dibandingkan strain lain seperti H1N1 dan influenza B.
Mengapa Kasus Super Flu Banyak Terjadi pada Anak dan Remaja?
Anak-anak dan remaja lebih rentan terinfeksi flu karena tingkat kontak yang tinggi di sekolah, tempat penyebaran virus sering terjadi. Selain itu, sistem kekebalan mereka masih tidak sekuat orang dewasa dalam menghadapi virus influenza.

14 hours ago
2






































