Kurikulum yang Terus Berganti, Apakah Sekolah Kita Sudah Siap?

3 hours ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Image Clara Setiani

Pendidikan | 2026-01-23 11:53:37

 

Kurikulum diibaratkan jungkat-jungkit, menandakan perubahan yang belum stabil.

Setiap perubahan kurikulum hampir selalu datang dengan harapan besar. Pendidikan Indonesia diharapkan menjadi lebih adaptif, relevan, dan mampu menjawab tantangan zaman. Namun, di balik niat baik tersebut, muncul pertanyaan yang jarang dibahas secara jujur: apakah sekolah dan guru kita benar-benar siap setiap kali kurikulum berubah?

Kurikulum sejatinya adalah alat, bukan tujuan. Ia dirancang untuk membantu proses belajar mengajar agar berjalan lebih efektif. Masalah muncul ketika alat ini terlalu sering diganti, sementara kesiapan penggunanya guru dan sekolah tidak mendapat perhatian yang sepadan.

Dalam praktik di lapangan, perubahan kurikulum hampir selalu diikuti oleh tuntutan administrasi baru. Guru harus menyesuaikan perangkat ajar, sistem penilaian, hingga laporan pembelajaran. Pada saat yang sama, tidak semua guru memperoleh pelatihan yang memadai. Akibatnya, kurikulum yang seharusnya memberi ruang kreativitas justru menjadi sumber kebingungan dan kelelahan.

Kondisi ini semakin kompleks jika melihat realitas pendidikan Indonesia yang sangat beragam. Sekolah di kota besar dengan akses pelatihan, teknologi, dan sumber belajar relatif lebih siap beradaptasi. Sebaliknya, sekolah di daerah dengan keterbatasan infrastruktur sering kali tertinggal dalam hal pendampingan kebijakan. Ketika kurikulum diterapkan secara seragam, kesenjangan kualitas pendidikan berpotensi semakin melebar.

Perubahan kurikulum juga berdampak pada psikologis guru. Guru dituntut untuk selalu “siap berubah”, sementara waktu mereka sebagian besar sudah tersita untuk mengajar dan tugas administratif. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menggeser fokus utama pendidikan: membangun relasi belajar yang bermakna antara guru dan murid. Ketika energi habis untuk menyesuaikan sistem, kualitas interaksi di kelas berisiko terabaikan.

Kritik terhadap kurikulum bukan berarti menolak pembaruan. Pendidikan memang harus berkembang. Namun, pembaruan seharusnya didasarkan pada evaluasi yang menyeluruh dan transparan. Apakah kurikulum sebelumnya sudah dievaluasi secara komprehensif? Apakah kendala di lapangan telah benar-benar dijadikan dasar perbaikan? Tanpa evaluasi yang kuat, perubahan kebijakan berpotensi menjadi rutinitas administratif, bukan solusi substantif.

Selain itu, guru seharusnya diposisikan sebagai mitra utama dalam perumusan kebijakan, bukan sekadar pelaksana. Pengalaman guru di ruang kelas adalah sumber data yang sangat berharga. Melibatkan mereka secara aktif dapat membantu memastikan bahwa kurikulum tidak hanya ideal di atas kertas, tetapi juga realistis untuk diterapkan.
Di sisi lain, publik perlu memahami bahwa kualitas pendidikan tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada kurikulum.

Faktor lain seperti kesejahteraan guru, lingkungan belajar yang aman, serta dukungan keluarga dan masyarakat memegang peranan penting. Kurikulum yang baik akan sulit berhasil jika berdiri sendiri tanpa ekosistem pendukung yang kuat.
Karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar keberanian untuk mengganti kurikulum, melainkan komitmen untuk menyiapkan transisi yang matang. Pelatihan berkelanjutan, pendampingan yang merata, dan kebijakan yang memberi ruang adaptasi lokal perlu menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap perubahan.

Pendidikan adalah proses jangka panjang. Hasilnya tidak selalu terlihat dalam hitungan tahun, apalagi bulan. Stabilitas yang disertai evaluasi berkala sering kali lebih berdampak daripada perubahan cepat yang minim persiapan.
Jika tujuan kita adalah menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi setiap anak Indonesia, maka kurikulum harus hadir sebagai penopang, bukan beban. Perubahan memang perlu, tetapi kesabaran, konsistensi, dan kesiapan pelaksana adalah kunci agar perubahan itu benar-benar membawa kemajuan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

Read Entire Article