Dari YouTube, saya pernah dengar lagu itu. Komposisi melodi, ritme, harmoni, tempo, dan dinamikanya, rasa-rasanya tidak terlalu asing. Saya seperti pernah mendengarnya di suatu waktu dan tempat di masa yang telah lewat. Akan tetapi, lirik lagu yang menyampaikan cerita itu seperti mengajak saya untuk menikmati sajian yang sungguh berhadapan dengan lagu populer berbahasa Korea. Atau istilahnya gayo.
“Cheon gaeui dosireul jinagausseo. Cheon gaeui maeumeul muleo bwasseo. Hajiman nugudo moreugesseo. Naega eodi te onasseon eunji,” begitu bunyi empat larik awal dari lagu tersebut. Dengan bantuan terjemahan Google, saya akhirnya memperoleh versi terjemahan bahasa Indonesia, “Aku telah melewati seribu kota. Aku telah bertanya pada seribu hati. Tapi tidak ada yang tahu. Ke mana engkau pergi.”
Nah, sampai di sini semakin yakinlah saya. Bila semula hanya berdasarkan komposisi melodi, ritme, harmoni, tempo, dan dinamikanya, rasa-rasanya itu adalah lagu maestro campursari Didi Kempot alias Didik Prasetyo (31 Desember 1966 - 5 Mei 2020) yang populer, yaitu “Sewu Kuto” (rilis pertama kali 2001), maka dengan hasil versi terjemahan Indonesia tersebut semakin mantap arah dugaan saya.
Meskipun struktur kalimatnya tidak persis betul, versi terjemahan bahasa Indonesia dari empat larik awal lagu dalam bahasa Korea tersebut, sangat dekat secara maknawi dengan versi bahasa Jawanya, yaitu “Sewu kuto uwis tak liwati. Sewu ati uwis tak takoni. Nanging kabeh pada rangerteni. Lungamu neng endi.” Nah, sampai di sini, dugaan saya tadi juga mendapat dukungan dari lirik lagunya.
Sebagai catatan, selain versi terjemahan bahasa Korea, lagu “Sewu Kuto” juga ada versi bahasa Inggris di bawah naungan judul “A Thousand Cities”. Versi ini banyak dibawakan penyanyi cover. Penyanyi pembawa ulang lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi aslinya. Termasuk di dalamnya lagu yang diterjemahkan ke bahasa lain dan sentuhan aransemen baru.
Ada pula lagu “Sewu Kuto” versi terjemahan bahasa Belanda di bawah tajuk “Duizend Steden”. Pemicunya bisa jadi lantaran ketenaran Didi Kempot di Suriname dan karena kedekatan sejarah dengan warga Suriname keturunan Jawa. Bisa jadi berkat lagu-lagunya yang acapkali terdengar komunitas penutur bahasa Belanda sehingga mendorong seniman lagu mereka menerjemahkan liriknya ke bahasa tersebut.
Masih di platform digital yang sama, saya pun memindahkan perhatian ke lagu “Bogo Sipeoyo, Appa” (“Titip Rindu buat Ayah) dengan penyanyi dan pencipta Ebiet G. Ade (lahir 21 April 1954). Dan, terlantunlah dari suara merdu penyanyi cover Jinwoo lirik bahasa Korea, “Geu nunen ajik nameun gieok. Sumaneun naideuri saegyojyeonne hima wie. Jicheo boineun geu eolgul.”
Kali ini saya tidak perlu repot memastikan pengalihbahasaan via bantuan terjemahan Google apakah ada kemiripan dengan lirik aslinya atau tidak. Sebab, dalam video sudah tertulis teks dalam aksara Korea (alfabet Hangeul), pengucapannya dalam huruf Latin, dan lirik asli bahasa Indonesianya, “Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat di keningmu. Kau nampak tua dan letih.”
Akan tetapi, feeling saya mengisyaratkan, alih bahasa agaknya tidak akan mungkin secara sempurna dapat memindahkan kata-kata dari lirik lagu asal ke lirik terjemahan secara presisi. Persis sama atau presis plek dalam bahasa Jawanya. Entah itu ada perubahan struktur kalimat dari pasif ke aktif. Entah pula itu dari urutan kata dalam kalimat lirik yang berbeda.

21 hours ago
11




































