Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa penjajahan Zionis Israel atas wilayah Palestina harus diakhiri terlebih dahulu sebelum langkah perdamaian apa pun dapat dijalankan secara efektif di wilayah tersebut.
“Kami percaya, seberapa pun solusi damai dibahas, selama penjajahan masih berlangsung, upaya itu tidak akan membuahkan hasil. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengakhiri penjajahan terhadap wilayah Palestina,” kata Boroujerdi saat ditemui usai taklimat media di Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut disampaikan Boroujerdi sebagai respons atas pembentukan Dewan Perdamaian Gaza, sebuah inisiatif yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan dirancang untuk memimpin proses pemulihan Gaza setelah dua tahun agresi Zionis Israel.
Menurut Boroujerdi, melanjutkan proses perdamaian tanpa mengakhiri penjajahan merupakan pendekatan yang keliru. Ia mengibaratkannya seperti seseorang yang menduduki sebagian rumah, lalu mengajak pemiliknya untuk berunding.
Meski demikian, Boroujerdi menegaskan bahwa Iran menghormati keputusan negara-negara yang memilih bergabung dalam badan bentukan Trump tersebut. Ia memahami setiap negara memiliki kepentingan nasional serta pertimbangan politik yang berbeda dalam menyikapi isu Palestina.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza. Keanggotaan badan tersebut mencakup Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Trump Steve Witkoff, serta menantu Trump, Jared Kushner.
Dewan tersebut disebut bertugas memberikan pengawasan strategis, memobilisasi sumber daya internasional, serta memastikan akuntabilitas selama Gaza bertransisi dari konflik menuju perdamaian dan pembangunan.
Trump juga telah mengundang puluhan negara untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, di antaranya Hungaria, Argentina, Azerbaijan, Mesir, Yordania, Kazakhstan, Arab Saudi, dan Turki.
Indonesia diketahui menerima tawaran AS untuk bergabung dalam badan tersebut. Keputusan itu disampaikan melalui pernyataan bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dengan tujuh negara Arab dan Islam lainnya yang dirilis pada Kamis.
Namun, gagasan tersebut tidak sepenuhnya mendapat sambutan positif dari komunitas internasional. Sejumlah negara Eropa menyatakan kekhawatiran bahwa inisiatif Dewan Perdamaian Gaza justru berpotensi menggeser peran sentral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam penanganan konflik global.
Baca juga: Indonesia gabung Dewan Perdamaian, ini harapan Prabowo untuk Gaza
Baca juga: Presiden Palestina: Israel dalang di balik kehancuran Gaza
Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 day ago
2






































