Berbagai kabar memprihatinkan tentang perilaku generasi muda kini mudah ditemukan di media sosial. Video perundungan, pelajar yang membentak guru, remaja yang menantang orang tua, hingga tindakan tidak pantas lainnya beredar luas dan kerap menjadi konsumsi publik. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian perilaku tersebut justru direkam dan diunggah oleh pelakunya sendiri, seolah tanpa rasa bersalah. Fenomena ini menunjukkan adanya krisis adab di ruang nyata dan ruang digital, bukan sekadar persoalan kenakalan remaja.
Perkembangan teknologi digital memang membawa banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan serius dalam pembentukan karakter. Ruang digital yang nyaris tanpa batas sering membuat kebebasan berekspresi disalahartikan sebagai kebebasan berperilaku. Nilai sopan santun, empati, dan rasa hormat perlahan tergerus oleh budaya viral dan pencarian sensasi. Ironisnya, tidak sedikit orang dewasa yang justru gagal memberi teladan, bahkan ikut terjebak dalam pola komunikasi kasar dan tidak beretika di media sosial.
Krisis adab digital ini semakin diperparah oleh budaya validasi. Bagi sebagian remaja, jumlah “like”, komentar, dan pengikut menjadi tolok ukur nilai diri. Demi mendapatkan perhatian, mereka rela melakukan tindakan yang melanggar norma sosial, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi diri sendiri maupun orang lain. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi membentuk karakter yang rapuh, mudah terpengaruh, dan minim empati.
Situasi ini seharusnya menjadi alarm bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada prestasi akademik dan penguasaan teknologi. Pengetahuan yang tinggi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan dalam bersikap. Tanpa fondasi adab, kecerdasan justru dapat menjadi alat untuk menyakiti, merendahkan, atau mengeksploitasi orang lain di ruang digital.
Lingkungan keluarga harus diupayakan menjadi tempat pendidikan akhlak yang utama. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari contoh nyata. Cara orang tua berkomunikasi, menyikapi perbedaan, dan menggunakan media sosial akan menjadi cermin bagi anak. Di sekolah, guru pun memiliki peran strategis sebagai teladan karakter. Ketegasan yang manusiawi, keadilan yang konsisten, serta penghormatan terhadap martabat setiap siswa merupakan pelajaran etika yang kuat, meski sering tidak tertulis dalam kurikulum.
Berbagai kajian pendidikan modern menegaskan bahwa keterampilan abad ke-21, seperti literasi digital, berpikir kritis, dan kreativitas, harus berjalan seiring dengan pendidikan karakter. Generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, memahami konsekuensi digital, serta menumbuhkan empati dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun di ruang virtual.
Krisis adab digital tidak bisa diselesaikan dengan menyalahkan generasi muda semata. Ini adalah tanggung jawab bersama. Sudah saatnya orang dewasa menata ulang prioritas pendidikan dan pengasuhan dengan menempatkan adab sebagai fondasi utama. Dengan demikian, generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cakap secara intelektual dan digital, tetapi juga matang secara moral dan sosial dalam menghadapi tantangan zaman.

6 hours ago
6







































