Saat mendaki gunung, selain menikmati pemandangan yang terbentang luas dan udara yang terasa lebih bersih, penulis selalu memberi ruang khusus untuk mendengarkan suara burung.
Di jalur pendakian, suara-suara itu hadir sebagai lapisan pengalaman yang sering luput disadari, padahal ia menandai kehidupan hutan yang masih bekerja secara alami.
Penulis kerap berhenti sejenak, mengurangi langkah, lalu membiarkan telinga menyesuaikan diri dengan bunyi-bunyi yang muncul dari balik pepohonan. Dari sanalah, keberadaan burung dapat dikenali tanpa harus melihat wujudnya secara langsung.
Pengalaman mendengarkan suara burung itu berulang di berbagai hutan pegunungan Jawa Barat. Di Gunung Pangrango, kicauan terdengar rapat sejak pagi hari, menyatu dengan kabut yang turun perlahan.
Di Papandayan, suara burung sering muncul dari balik hutan mati dan semak belukar yang terbuka. Gunung Salak menghadirkan gema suara burung yang dalam, memantul di lembah dan lereng curam. Di Tangkuban Perahu, suara burung bercampur dengan desir angin dan langkah pengunjung yang datang silih berganti.
Di Gunung Ciremai, perbedaan ketinggian menghadirkan variasi suara burung yang jelas terasa. Gunung Cikuray menyuguhkan suasana lebih sunyi, dengan suara burung yang muncul sesekali namun tajam.
Di Guntur dan Malabar, kicauan burung sering terdengar dari kebun, hutan pinus, dan lahan campuran. Berdasarkan pengamatan dan catatan, Gunung Malabar ini memiliki keanekaragaman suara burung yang lebih kaya dari yang lain dan akan penulis narasikan secara khusus.
Gunung Sanggara, Wayang, Burangrang, Manglayang, serta Patuha memperlihatkan pola serupa, di mana burung menjadi bagian dari lanskap suara. Dari semua gunung itu, ada satu suara yang hampir selalu hadir, yaitu suara burung kedasih.
Burung kedasih dikenal luas di tanah Sunda dengan sebutan sirit uncuing. Dalam berbagai dialek Sunda, namanya dilafalkan berbeda menjadi sit uncuing, siit uncuing, atau sit incuing. Di wilayah Jawa, burung ini disebut darasih atau emprit ganthil.
Dalam bahasa Inggris, ia dikenal sebagai plaintive cuckoo atau rusty-breasted cuckoo, nama yang merujuk pada karakter suaranya yang mendayu. Ragam penamaan ini menunjukkan luasnya persebaran burung tersebut sekaligus kedekatannya dengan kehidupan masyarakat.
Secara ilmiah, burung kedasih memiliki nama Cacomantis merulinus dan termasuk famili Cuculidae dalam ordo Cuculiformes. Famili ini dikenal sebagai kelompok burung kangkok atau cuckoo yang tersebar luas di kawasan tropis dan subtropis dunia, sebagaimana dicatat dalam ensiklopedia Britannica.
Di Indonesia, subspesies Cacomantis merulinus lanceolatus hidup di Jawa dan Bali, sementara subspesies lain tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara, sebagaimana dilaporkan dalam basis data Birds of the World.
Dari segi fisik, burung kedasih tergolong kecil dengan panjang tubuh sekitar dua puluh hingga dua puluh empat sentimeter. Burung jantan memiliki kepala berwarna abu-abu dengan punggung cokelat keabu-abuan dan bagian perut berwarna jingga atau merah sawo matang.
Burung betina tampak lebih burik dengan warna cokelat kemerahan yang lebih kusam. Tubuhnya ramping, paruhnya runcing, dan kakinya relatif kecil, mendukung kebiasaan bergerak cepat di balik rimbunan daun.
Burung kedasih dikenal sebagai burung yang lebih sering terdengar daripada terlihat. Ia gemar bertengger di balik tajuk pohon yang rapat dan jarang berpindah tempat saat bersuara. Kebiasaan ini membuat sumber suara sulit dilacak, meskipun bunyinya terdengar jelas dan panjang.

1 day ago
3






































