Pernahkah Anda memperhatikan mata si kecil anak anak lain tampak tidak sejajar saat menatap sesuatu? Kondisi yang kerap disebut mata juling ini dikenal sebagai strabismus, yaitu gangguan ketika kedua mata tidak mengarah ke titik yang sama. Tak heran jika kondisi ini membuat banyak orang tua merasa khawatir. Lalu muncul pertanyaan yang sering terdengar, apakah strabismus berkaitan dengan faktor genetik dan dapat diturunkan dalam keluarga
Apakah Strabismus pada Anak Bersifat Genetik?
Dikutip dari Healthline, strabismus memang dapat terjadi karena faktor genetik, Moms. Kondisi ini cenderung run in families, yang berarti anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami strabismus jika orang tua atau anggota keluarga dekat memiliki riwayat serupa. Meski demikian, pada kebanyakan kasus, strabismus tidak disebabkan oleh satu gen tunggal. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor genetik yang berperan dalam cara kerja otot mata serta sistem saraf yang mengontrol pergerakan mata. Namun, tidak sedikit anak yang mengalami strabismus meski tidak memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Berikut beberapa faktor lain yang dapat memicu strabismus pada anak:
Dengan kata lain, faktor genetik memang dapat meningkatkan risiko, tetapi bukan satu-satunya penentu terjadinya strabismus pada anak.
Kondisi Mata Juling Tidak Boleh Dibiarkan!
Strabismus yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko amblyopia atau mata malas, yaitu kondisi ketika otak lebih mengandalkan satu mata dan mengabaikan mata lainnya. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan penglihatan anak dalam jangka panjang, Moms. Karena itu, jika Anda melihat tanda-tanda mata tidak sejajar atau mencurigai adanya strabismus pada si kecil, sebaiknya segera memeriksakan anak ke dokter mata. Semakin cepat strabismus terdeteksi dan ditangani, semakin besar peluang anak memiliki fungsi penglihatan yang optimal.

11 hours ago
5






































