Nama Venezuela kembali muncul di berita dunia bukan sebagai kisah tentang rakyat, melainkan tentang kekuasaan dan alasan. Di sana, krisis lama bertemu bahasa lama: penertiban, penyelamatan, penegakan. Amerika, dengan nada yang nyaris administratif, kembali menempatkan diri sebagai pihak yang datang untuk membantu—sebuah peran yang dalam sejarah global selalu terdengar wajar, bahkan ketika akibatnya jauh dari sederhana.
Dalam jarak waktu yang jauh itu, Venezuela hari ini tampak seperti salah satu titik kecil tempat pola lama bekerja kembali: kekuasaan besar yang merasa perlu datang, dan dunia yang diminta percaya pada alasannya.
Roma datang ke negeri-negeri jauh dengan keyakinan yang nyaris polos: dunia perlu ditertibkan. Jalan dibangun, hukum ditegakkan, dan jika ada yang menolak, pedang bekerja tanpa banyak kata. Kekerasan bukan aib, melainkan prosedur. Peradaban adalah alasan yang cukup.
Dua ribu tahun kemudian, Amerika datang dengan bahasa yang lebih sopan. Ia tidak membawa legiun, melainkan istilah: demokrasi, stabilitas, keamanan global. Kekerasan tidak lagi disebut kekerasan, melainkan operasi. Korban tidak lagi disebut manusia, melainkan dampak. Kata-kata bekerja lebih rapi daripada pedang; ia tidak meninggalkan bekas yang bisa difoto.
Roma menyebut dirinya imperium. Amerika justru bersikeras mengatakan bahwa ia bukan apa-apa—hanya penolong yang kebetulan paling kuat.
Noam Chomsky pernah menulis bahwa kekuasaan modern bekerja paling efektif ketika ia menolak menyebut dirinya kekuasaan. Roma jujur pada pedangnya. Amerika lebih percaya pada bahasa. Bahasa yang menenangkan, mengaburkan, sekaligus mengatur arah berpikir. Dalam bahasa itu, sanksi bukan hukuman, tetapi tekanan moral. Serangan bukan agresi, melainkan penegakan.
Jika Roma membutuhkan barbar agar dirinya tampak beradab, Amerika membutuhkan musuh agar dirinya tampak bermoral. Musuh itu tidak harus baru; cukup diberi nama yang tepat. Negara bermasalah bekerja dengan baik. Ancaman regional juga cukup. Venezuela, seperti banyak negeri lain sebelumnya, masuk ke dalam kosakata itu.
Yang penting bukan siapa musuhnya, melainkan fungsinya.
Chomsky menyebutnya manufacturing consent: persetujuan yang diproduksi, bukan diminta. Publik tidak perlu diyakinkan bahwa perang itu baik. Cukup diyakinkan bahwa perang itu perlu. Media membantu dengan memilih gambar yang aman—pidato, peta, pernyataan resmi—dan menyisihkan yang sulit dijelaskan: hidup yang berhenti tanpa istilah teknis.
Roma runtuh bukan karena satu serangan besar, melainkan karena kelelahan yang panjang. Perang yang tak selesai, biaya yang tak pernah lunas, dan keyakinan yang pelan-pelan menguap.
Amerika mungkin tidak runtuh seperti Roma. Tidak ada tembok yang roboh. Tetapi imperium tidak selalu berakhir dengan kehancuran. Kadang ia hanya berhenti dipercaya—oleh dunia yang terlalu sering mendengar alasan, dan oleh dirinya sendiri yang mulai sulit membedakan antara kepentingan dan kebajikan.
Venezuela hari ini mungkin bukan Roma, dan Amerika tentu bukan Kaisar. Tetapi sejarah jarang mengulang peristiwa; ia mengulang pola. Dan pola itu selalu sama: kekuasaan yang terlalu yakin bahwa ia datang untuk menolong, akhirnya lupa bertanya apakah pertolongan itu pernah diminta.
Imperium tidak selalu runtuh oleh perlawanan. Kadang ia hanya ditinggalkan oleh kepercayaan. Dan sejarah, seperti biasa, mencatatnya tanpa perlu bertepuk tangan.

1 day ago
10




































