Algoritma sebagai Aktor Kebijakan: Siapa Bertanggung Jawab ketika Sistem Gagal?

1 day ago 11
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Gambar ini mengilustrasikan kompleksitas hubungan antara teknologi, kebijakan publik, dan tanggung jawab manusia. (Sumber foto: Idisign)

Kebijakan publik semakin sering berbicara tentang machine learning, big data, dan kecerdasan buatan (AI) sebagai tulang punggung transformasi pelayanan negara.

Pemerintah menyongsong era digital dengan memanfaatkan algoritma untuk mempercepat layanan, meningkatkan efektivitas program sosial, dan memperbaiki tata kelola administrasi.

Namun, ketika keputusan publik mulai diambil dengan bantuan algoritma, muncul pertanyaan penting yang kerap terlewatkan: Siapa yang bertanggung jawab ketika sistem gagal?

Dalam sebuah kebijakan publik, akuntabilitas adalah fondasi esensial. Tanpa itu, warga negara kehilangan jalur aduannya ketika haknya dilanggar atau saat keputusan algoritmik memicu ketidakadilan.

Realitas 2025 menunjukkan peningkatan penggunaan algoritma dalam layanan publik di Indonesia, mulai dari penentuan prioritas bantuan sosial hingga penyaringan calon penerima layanan kesehatan berbasis risiko.

Algoritma telah masuk ke ruang kebijakan secara luas, tetapi regulasi yang mengaturnya belum seimbang dengan frekuensi penggunaan.

Penetrasi internet Indonesia terus meningkat menurut APJII 2025, penetrasi menjulang di atas 80 persen, tetapi pemanfaatan data besar dan sistem otomatis belum diikuti oleh kehati-hatian terhadap keadilan, transparansi, dan akuntabilitas keputusan algoritmik.

Tulisan ini menegaskan bahwa ketika kebijakan publik mulai bergantung pada algoritma, negara tidak boleh melepaskan tanggung jawab atas keputusan yang dihasilkan sistem otomatis apa pun namanya.

Algoritma dan Kebijakan Publik: Efisiensi tanpa Akuntabilitas?

Ilustrasi algoritma. Foto: Nadia Wijaya/kumparan

Dalam lapangan praktik, algoritma dipandang sebagai solusi efisiensi birokrasi dan perbaikan kebijakan berbasis data. Sistem rekomendasi digunakan untuk menyeleksi penerima bantuan sosial, analitik prediktif untuk alokasi sumber daya kesehatan, serta scoring otomatis untuk layanan perizinan dan pembayaran pajak.

Banyak institusi pemerintah menaruh optimisme bahwa keputusan otomatis akan mengurangi bias manusia, mengurangi korupsi, dan mempercepat layanan.

Namun, optimisme ini sering kali hanya dilandasi asumsi efisiensi, bukan refleksi atas konsekuensi sosial dan nilai publik. Algoritma mengambil keputusan berdasarkan data historis.

Jika data historis itu sendiri mengandung bias—misalnya ketidakterjangkauan layanan di daerah tertentu, kurangnya representasi kelompok marginal, atau kesalahan input administratif—algoritma akan mereplikasi bias tersebut dalam bentuk keputusan yang tampak objektif, tetapi sebenarnya diskriminatif secara sistemik.

Pengalaman negara-negara lain menunjukkan betapa algoritma bisa menciptakan ketidakadilan yang terstruktur. Di beberapa negara, sistem penilaian risiko kredit otomatis menolak permohonan dari warga di wilayah tertentu yang kurang terlayani bank, bukan semata karena risiko kredit, melainkan karena kurangnya rekam jejak historis dalam data.

Di Indonesia, penggunaan algoritma serupa tanpa audit independen berpotensi memperkuat ketimpangan yang justru menjadi masalah kebijakan sosial utama.

Read Entire Article