Prancis pada dekade 1630-an berdiri sebagai laboratorium kekuasaan dengan efisiensi yang mengerikan. Di koridor Versailles yang dingin, Kardinal Richelieu yang dikenal sebagai Eminence Rouge menyadari sepenuhnya bahwa pedang dan penjara adalah instrumen kuno yang terlalu berisik serta berisiko memicu martir.
Kekuasaan abadi harus dibangun melalui penjinakan nalar lewat ketergantungan ekonomi yang sistematis dan mengikat. Richelieu memegang prinsip bahwa membungkam mulut-mulut bising di kedai kopi Paris harus dilakukan tanpa mengotori tangan sendiri dengan noda otoritarianisme yang mencolok.
Strateginya bertumpu pada penciptaan kelas klien, yaitu kelompok-kelompok masyarakat yang terikat hutang budi dan harta secara langsung kepada istana. Melalui pemberian akses pada pundi-pundi kekayaan negara yang seharusnya menjadi milik publik, Richelieu mengubah fungsi organisasi sipil dari pengawas kekuasaan menjadi pengawal kepentingan kardinal. Kelompok-kelompok ini diikat dengan rantai emas yang membuat mereka kehilangan daya kritis, namun justru mendapatkan daya serang yang luar biasa terhadap siapa pun yang dianggap mengancam stabilitas sang pemberi mandat.
Richelieu membagikan hak istimewa berupa konsesi atas pajak, monopoli perdagangan gandum, hingga penguasaan sumber daya tanah yang luas kepada kelompok-kelompok yang memiliki pengaruh massa signifikan. Kelompok-kelompok ini sering tampil di ruang publik mengenakan jubah moralitas yang tebal, menggunakan jargon-jargon spiritual yang meyakinkan untuk menutupi motif material di baliknya. Begitu kantong mereka terisi oleh mandat eksploitasi hasil bumi Prancis, loyalitas mereka bergeser seketika menjadi insting protektif yang agresif terhadap eksistensi takhta.
Peran mereka dalam ekosistem ini adalah menjadi tameng hidup bagi istana. Jika ada penyair, seniman panggung, atau intelektual vokal yang mulai mempertanyakan arah kebijakan negara atau gaya hidup mewah para elit, kelompok penerima mandat inilah yang pertama kali menunjukkan ketersinggungan yang meledak-ledak.
Mereka menyeret sang kritikus ke meja hijau atau melakukan intimidasi sosial di jalanan atas nama menjaga marwah bangsa dan kesucian tatanan. Richelieu cukup duduk di balik tirai Versailles sambil memutar gelas anggurnya, membiarkan para pemegang konsesi melakukan pekerjaan kotor yang kasar tersebut dengan tangan mereka sendiri.
Sistem Richelieu bekerja lewat pembagian peran yang sangat rapi antara dalang di balik layar dan para pemain di atas panggung. Penguasa wajib tampil di depan publik sebagai sosok malaikat penengah yang bijaksana, moderat, dan tampak menghargai perbedaan. Saat kegaduhan yang diciptakan oleh para klien mulai mencapai titik didih dan merusak citra istana di mata internasional, Richelieu memerintahkan Raja untuk mengambil peran sebagai pahlawan pembela hak-hak warga negara.
Sang Raja akan muncul di podium dengan nada bicara yang teduh, bicara panjang lebar soal pentingnya kebebasan berpendapat, atau bahkan memberikan pengampunan dramatis kepada mereka yang sebelumnya dikeroyok habis-habisan oleh pengikutnya sendiri. Publik yang terpukau akan bersorak memuji kebijaksanaan Sang Raja. Mereka tidak menyadari bahwa singa-singa yang mengaum di jalanan itu sebenarnya dilepaskan dari kandang yang kunci gudang makanannya dipegang erat oleh istana melalui pemberian konsesi dan privilese ekonomi tersebut.
Ekosistem Penjinakan Massal
Kritik terhadap kekuasaan tidak lagi dihadapi dengan debat argumen di ruang publik, melainkan dengan intimidasi horisontal yang terstruktur rapi. Penguasa menyediakan piring-piring emas bagi organisasi-organisasi berbasis massa besar agar mereka tetap kenyang, patuh, dan merasa memiliki andil dalam kekuasaan.
Perut yang sudah terisi oleh jatah sumber daya alam dan kenyamanan finansial melunturkan nalar kritis mereka secara perlahan, menyisakan insting penjaga keamanan yang sangat reaktif terhadap sesama warga yang masih berani bersuara.
Rakyat kemudian dipaksa menonton drama kolosal di mana para kritikus berhadapan langsung dengan kelompok masyarakat yang telah dipersenjatai dengan modal ekonomi dan akses politik. Ini merupakan cara paling rapi untuk membunuh oposisi tanpa perlu menembakkan satu butir peluru pun atau mengeluarkan surat perintah penangkapan dari kepolisian kerajaan.
Kekuasaan menjadi sangat stabil karena yang membungkam rakyat adalah bagian dari rakyat itu sendiri yang telah dibeli melalui skema konsesi yang terlihat sah secara administratif.
Sejarah adalah sebuah komedi putar yang terus berulang dengan aktor yang hanya berganti kostum dan teknologi. Di Versailles abad ke-17, upahnya mungkin berupa monopoli perdagangan gandum atau hak atas tanah-tanah feodal yang subur. Di panggung lain yang lebih kontemporer, komoditasnya adalah lubang-lubang di perut bumi yang dijanjikan sebagai imbalan atas jaminan stabilitas politik dan pembungkaman kritik yang mengganggu.

3 hours ago
2






































