Layar ponsel kita tak pernah benar-benar sepi. Notifikasi datang silih berganti, video bergulir tanpa henti, dan linimasa terasa selalu penuh. Namun, di balik keramaian itu, kepala justru sering terasa kosong. Kita sibuk menyimak banyak hal, tapi jarang benar-benar memahami apa pun secara utuh.
Di era digital, perhatian menjadi komoditas paling mahal. Setiap aplikasi berlomba merebut fokus kita,dengan warna mencolok, suara singkat, dan konten cepat habis. Akibatnya, kita terbiasa mengonsumsi informasi secara instan, tanpa jeda untuk berpikir. Ramai di layar, tapi sunyi di pikiran.
Ironisnya, semakin banyak yang kita lihat, semakin sulit kita mencerna. Informasi menumpuk tanpa sempat diolah. Kita tahu banyak judul, tapi miskin makna. Banyak opini lewat, tapi jarang benar-benar dipahami. Kepala lelah bukan karena berpikir terlalu dalam, melainkan karena tak pernah diberi waktu untuk berpikir sama sekali.
Fenomena ini juga mengubah cara kita berdialog dengan diri sendiri. Saat layar selalu aktif, ruang sunyi menghilang. Padahal, justru dalam kesunyian itulah refleksi tumbuh. Tanpa refleksi, kita mudah terombang-ambing oleh tren, emosi sesaat, dan opini viral yang belum tentu kita yakini.
Ramai di layar juga sering menipu perasaan. Kita merasa terhubung, padahal sering kali hanya terpapar. Kita merasa tahu banyak, padahal hanya sekilas. Kepala menjadi penuh distraksi, tetapi kosong arah.
Mungkin yang perlu kita lakukan bukan menambah konten, melainkan mengurangi kebisingan. Memilih apa yang layak dilihat, memberi jarak dari layar, dan memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja. Karena pada akhirnya, bukan seberapa ramai layar kita yang menentukan kualitas hidup, melainkan seberapa jernih kepala kita memaknai dunia.
Penulis Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas Fakultas Ilmu Komputer.

7 hours ago
1






































