Sarajevo (ANTARA) - Slobodan Soja, seorang sejarawan sekaligus mantan diplomat Bosnia, memperingatkan bahwa dunia sedang menyaksikan "erosi diplomasi" yang belum pernah terjadi sebelumnya, seiring politik kekuasaan semakin mengesampingkan hukum internasional, dengan Greenland menjadi titik fokus baru dalam persaingan strategis global.
"Ini sesuatu yang benar-benar baru dalam sejarah," kata Soja kepada Xinhua baru-baru ini.
"Sangat mengkhawatirkan ketika seseorang muncul secara terbuka dan mengatakan, 'saya akan memasuki suatu negara dan melakukan apa pun yang saya inginkan di sana', tanpa berpura-pura menghormati norma-norma diplomatik." Soja menggambarkan tren ini sebagai "sistem koboi" yang tidak hanya mencerminkan kehendak seorang tokoh politik tunggal, tetapi juga kepentingan modal multinasional yang kuat yang beroperasi di balik lembaga-lembaga negara.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk "menguasai" Greenland, mulai dari "membeli" pulau itu selama masa jabatan presiden pertamanya, hingga penggunaan "berbagai opsi" saat ini termasuk "memanfaatkan militer AS" untuk merebut pulau otonom itu dari Denmark.
"Apa yang terjadi di Greenland mencerminkan apa yang sudah terjadi di tempat lain," kata Soja. "Inilah mengapa situasi ini harus dikutuk sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, meskipun komunitas internasional tampaknya tidak berdaya untuk mencegahnya."
Soja menyoroti berbagai reaksi di dalam Uni Eropa (UE) sebagai bukti kebingungan strategis. "UE tidak tahu harus berbuat apa," ujar Soja.
"Dan pertanyaan sebenarnya adalah apa yang akan dilakukannya jika Greenland benar-benar diambil alih." Menurut Soja, hasilnya dapat diprediksi, yakni protes-protes simbolis tanpa perlawanan yang berarti.
Soja memperingatkan bahwa standar ganda UE, memprotes secara selektif sambil menghindari konfrontasi dengan AS, akan mempercepat kemundurannya sebagai kekuatan global. "UE tidak akan menjatuhkan sanksi kepada AS, sama seperti mereka menutup mata terhadap konflik-konflik tertentu di tempat lain," tuturnya.
Dalam jangka panjang, Soja memperkirakan bahwa Eropa berisiko terpinggirkan karena kurangnya otonomi strategis.
"Greenland bukan hanya masalah teritorial," kata Soja. "Ini simbol tatanan dunia baru di mana hukum internasional dilemahkan, diplomasi diabaikan, dan kekuatan ekonomi mendikte hasil politik."
Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

5 days ago
6






































