Menteri ATR/BPN Sita 27.000 Hektare Tanah Telantar Sejak 2020

2 days ago 5
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, saat ditemui di kantor Kementerian PU, Rabu (29/10/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mencatat sudah ada 27.000 hektare tanah terlantar alias tidak dimanfaatkan yang disita negara sejak tahun 2020.

Aturan kebijakan itu tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2025, yang merupakan perubahan atas PP Nomor 20 Tahun 2021 tentang Penertiban Kawasan dan Tanah Telantar.

Tanah tersebut dapat berupa Hak Guna Usaha (HGU) maupun Hak Guna Bangunan (HGB). Pemerintah, kata Nusron, berhak menyita tanah tersebut jika tidak dimanfaatkan selama dua tahun, kemudian ditetapkan sebagai tanah telantar dan diambil alih kembali oleh negara.

"Jumlahnya yang telantar sudah kita serahkan sekitar 27.000 hektare, ada di kabupaten, ada di luar Jawa, ada juga di Jawa. Di Jawa rata-rata HGB juga ada. Dari tahun 2020 sampai sekarang sudah banyak yang model begitu," ungkap Nusron saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Selasa (10/2).

Nusron menuturkan, perbedaan antara peraturan lama dan baru yakni dari sisi proses penyitaan tanah telantar. Sebelumnya, prosesnya membutuhkan waktu 585 hari, sementara aturan terbaru lebih singkat menjadi hanya 100 hari.

Nusron mengatakan, kebijakan ini utamanya untuk mendesak pemilik tanah agar segera memanfaatkan tanahnya. Misalnya, tanah yang berbentuk HGB harus ada bangunannya, HGU dapat digunakan untuk pertanian, demikian pula dengan Sertifikat Hak Milik (SHM).

"Intinya, tanah harus dimanfaatkan dan didayagunakan. Kalau sampai waktu tertentu tidak dimanfaatkan dan tidak didayagunakan, maka tanah tersebut berpotensi diambil alih oleh negara," tegasnya.

Tanah yang disita tersebut, lanjut dia, akan digunakan negara untuk kepentingan rakyat, atau dapat juga dikelola oleh pemerintah daerah (pemda) yang membutuhkan lahan.

"Tanah itu diserahkan lagi kepada rakyat yang membutuhkan atau pemda yang membutuhkan. Supaya menjadi perhatian bagi yang punya tanah. Waktu awal-awal mereka berlomba-lomba mencari tanah, tapi tidak dimanfaatkan," tandas Nusron.

Reporter: Fariza Rizky Ananda

Read Entire Article