Jam enam pagi. Matahari Kuala Lumpur jelas belum sikat gigi. Tiba-tiba, Dok! Dok! Dok! Pintu kamar digedor saat betis saya masih pesta denyutan sisa tawaf (berkeliling) di Bukit Bintang.
Saya buka pintu dengan mata setengah terpejam. Di balik pintu, Helmi dan Rizal berdiri klimis, wangi, dan rapi. Tapi senyum itu... ah, senyum itu sungguh mencurigakan.
"Bangun, Fit! Kita naik gunung," kata Helmi semangat.
"Ke mana? Kinabalu? Ogah. Kakiku masih mogok," jawab saya sambil memeluk guling.
Rizal menyela, datar seperti biasa. "Bukan. Kita ke Puncak. Tapi Puncak yang ini isinya bukan kebun teh atau vila esek-esek. Ini Puncak tempat orang buang duit secara legal".
TKP berikutnya. Genting Highlands.
Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar satu jam. Jalannya mulus mirip pantat bayi. Menanjak, membelah hutan hujan tropis yang lebat. Mirip jalur ke Puncak, Bogor, tapi minus macet dan tukang jagung bakar.
Sampai di stasiun Awana SkyWay, kami naik kereta gantung (cable car). Tinggi sekali. Kabut tebal menyelimuti kaca. Di bawah, hutan belantara terlihat samar-samar.
"Di Indonesia, kalau ada gunung dingin begini, isinya pasti warung Indomie dan Vila Angker," celetuk saya.
"Di sini beda," sahut Rizal. "Di atas sana, setan dan malaikat duduk satu meja".
Begitu sampai di puncak, rahang saya jatuh. Bengong.
Jangan sebut ini gunung. Ini lebih mirip kota metropolitan yang salah alamat, nyasar ke tengah awan. Mal raksasa, theme park indoor, dan hotel berkapasitas ribuan kamar berdiri angkuh. Dan yang paling mencolok di antara semuanya: Kasino. Tunggu, jangan salah sangka. Ini bukan Kasino sahabat Dono dan Indro dari Warkop DKI. Bukan. Ini murni rumah judi.
Ya, Kasino. Tempat judi. Legal. Terbuka. Terang benderang.
Satu-satunya hal yang tidak dimiliki Indonesia, tapi justru ada di Malaysia. Negara yang katanya Syariah. Dan ini memicu korsleting di otak saya. Tiba di depan pintu masuk 'Casino de Genting' saya berhenti. Penjagaannya ketat. Orang-orang antre masuk.
"Tunggu," kata saya menahan lengan Helmi. "Ini serius? Malaysia kan negara Islam? Konstitusinya bilang Islam agama resmi. Polisi moralnya galak. Kok ada kasino segede gaban begini?"
Di Indonesia, negara yang asasnya Pancasila (bukan negara agama), judi itu haram mutlak. Pasal 303 KUHP siap penjarakan siapa saja yang main gaple pakai uang receh, apalagi slot. Polisi kita sibuk gerebek markas Judol (Judi Online).
Lha ini? Di negara tetangga yang hukum syariahnya kuat, malah ada markas judi offline terbesar di Asia Tenggara?
Rizal tertawa kecil. Tawa yang penuh sarkasme. "Kau lihat penjaga pintu itu?" tunjuk Rizal.
Saya melihat sekuriti berbadan tegap memeriksa identitas pengunjung.
"Di pintu itu, hukum Tuhan dan hukum Negara bernegosiasi," kata Rizal puitis tapi sinis. Rizal menjelaskan mekanismenya. Sederhana, tapi brutal secara logika.
Warga negara Malaysia yang beragama Islam? Dilarang masuk. Haram. KTP mereka (MyKad) ada keterangan agamanya. Kalau Islam, pintu tertutup. Balik kanan, main bom-bom car saja di taman hiburan.
Tapi bagi warga Malaysi...

2 hours ago
2






































