Gaza (ANTARA) - Ribuan pasien dan korban luka akibat agresi Israel di Jalur Gaza menghadapi nasib tidak menentu akibat runtuhnya sistem layanan kesehatan di wilayah kantong Palestina itu.
Sumber medis setempat mengatakan sejumlah rumah sakit yang masih beroperasi kini kesulitan mempertahankan layanan dan berubah menjadi tempat tunggu ribuan pasien dan korban luka yang masa depannya tidak jelas.
Menurut mereka, sistem kesehatan di Gaza sudah lumpuh. Bertahannya layanan medis saat ini dianggap sebagai mukjizat, mengingat besarnya kerusakan yang menghambat upaya pemulihan fasilitas kesehatan di sana.
Krisis medis di Gaza telah mencapai titik nadir, bahkan obat pereda nyeri pun sulit didapat oleh orang yang menghadapi kematian. Data menunjukkan stok bahan laboratorium dan bank darah hampir habis, sementara lebih dari separuh perlengkapan medis dan obat-obatan penting sudah tidak tersedia lagi.
Para sumber menyebutkan bahwa layanan kanker, hematologi, bedah, operasi, perawatan intensif, dan layanan kesehatan primer menjadi yang paling terdampak krisis ini.
Jumlah obat terbatas yang masuk ke rumah sakit di Jalur Gaza dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan riil.
"Menyelamatkan kondisi kesehatan di rumah sakit Gaza tidak bisa dilakukan lewat solusi darurat sementara yang justru membuat konsekuensi serius terus bertambah," kata para sumber.
Sumber: WAFA
Baca juga: MSF: Aturan baru Israel ancam layanan kesehatan di Gaza
Baca juga: WHO: 137.000 anak dan ibu hamil Gaza terancam malnutrisi hingga April
Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

4 days ago
5







































