Kita Tidak Dilahirkan untuk Hidup, Kita Dilatih untuk Bertahan

10 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Sumber dari AI

Judul besar tentang hidup sering terdengar manis. Kita dilahirkan untuk bahagia. Kita dilahirkan untuk bermimpi. Kita dilahirkan untuk menikmati hidup. Kalimat kalimat ini dijual seperti brosur wisata. Indah di awal tapi tidak bertanggung jawab pada kenyataan. Hidup ternyata tidak pernah bertanya apakah kita siap menikmatinya. Hidup langsung menampar sejak bangun pertama kali. Maka wajar jika muncul kesimpulan yang jauh lebih jujur. Kita tidak dilahirkan untuk hidup. Kita dilatih untuk bertahan.

Sejak kecil kita sudah diajari satu hal penting bukan cara hidup enak tapi cara tidak mati duluan. Disuruh kuat. Disuruh sabar. Disuruh menyesuaikan diri. Tidak ada kurikulum resmi tentang bahagia. Yang ada hanya pelajaran bagaimana tidak tumbang. Sekolah mengajarkan kompetisi bukan ketenangan. Keluarga mengajarkan bertahan bukan memahami. Lingkungan mengajarkan menutup mulut bukan menyuarakan luka. Semua itu disebut proses pendewasaan padahal lebih tepat disebut latihan bertahan hidup versi sosial.

Lucunya sistem ini masih ingin terlihat mulia. Hidup digambarkan sebagai anugerah padahal perlakuannya seperti ujian tanpa kisi-kisi. Setiap hari kita diuji tanpa tahu apa soalnya. Salah sedikit dihukum. Lemah sedikit dicemooh. Lelah sedikit disuruh bersyukur. Di titik ini bersyukur berubah fungsi dari rasa terima kasih menjadi alat pembungkam yang sangat efisien. Jangan mengeluh katanya. Banyak yang lebih susah. Seolah derita adalah lomba dan hanya pemenang teratas yang berhak merasa sakit.

Dalam dunia seperti ini bertahan bukan pilihan. Bertahan adalah kewajiban. Tidak bertahan berarti kalah. Tidak kuat berarti gagal. Tidak sanggup berarti tidak layak. Maka benar adanya hanya orang tolol yang tidak bisa bertahan dalam hidup ini. Tolol bukan karena bodoh secara intelektual tapi karena menolak belajar dari kenyataan bahwa hidup tidak peduli pada perasaan. Hidup hanya menghormati daya tahan. Siapa yang mampu berdiri paling lama dialah yang disebut sukses. Terlepas dari bagaimana caranya berdiri dan apa yang harus dikorbankan.

Kita terlalu sering menipu diri sendiri dengan narasi hidup harus dinikmati. Padahal kenyataannya hidup lebih sering dijalani sambil menahan napas. Menikmati hidup terdengar seperti hak universal padahal lebih mirip bonus langka. Yang universal adalah tekanan. Yang merata adalah tuntutan. Yang konsisten adalah ketidakadilan. Maka kalimat jalani nikmati syukuri sering kali bukan motivasi tapi penenang darurat agar orang tidak banyak bertanya.

Menjalani hidup berarti menerima bahwa setiap hari adalah latihan. Latihan menghadapi kekurangan. Latihan menerima keterbatasan. Latihan berdamai dengan kenyataan bahwa usaha tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Menikmati hidup bukan berarti tertawa terus menerus tapi mampu menertawakan absurditasnya. Mampu menyadari betapa ironisnya dunia yang meminta kita kuat tapi tidak pernah memberi waktu istirahat. Bersyukur bukan berarti menyangkal sakit tapi mengakui bahwa meski sakit kita masih berdiri.

Kekurangan bukan masalah tapi tantangan kata orang orang bijak. Kalimat ini sering terdengar seperti slogan murah tapi sebenarnya sangat kejam sekaligus jujur. Kekurangan memang bukan masalah bagi sistem. Kekurangan adalah bahan bakar. Orang yang kurang akan bekerja lebih keras. Orang yang kurang akan lebih patuh. Orang yang kurang akan lebih mudah disuruh bertahan tanpa banyak menuntut. Maka tantangan itu bukan untuk mengatasi kekurangan tapi untuk membuktikan apakah kita cukup keras kepala untuk tidak menyerah.

Hidup tidak membutuhkan manusia yang bahagia. Hidup membutuhkan manusia yang tahan banting. Dunia tidak dibangun oleh orang yang menikmati hidup tapi oleh orang yang terlalu keras kepala untuk mati. Orang orang yang terus berjalan meski tahu jalannya salah. Orang orang yang terus bangun meski tahu besok akan jatuh lagi. Inilah ironi terbesar. Mereka disebut pejuang padahal mereka hanya tidak punya pilihan lain.

Pandangan bahwa kita dilahirkan untuk bertahan memang pahit. Tapi setidaknya jujur. Ia tidak menjanjikan surga. Ia hanya menawarkan kemungkinan tetap hidup. Dan di dunia seperti ini kemungkinan itu sudah cukup mahal. Maka berhentilah berpura pura hidup ini ramah. Hidup ini kasar. Hidup ini dingin. Hidup ini tidak peduli. Tapi justru di situlah nilai manusia diuji. Bukan pada seberapa bahagia ia hidup tapi seberapa lama ia mampu bertahan tanpa kehilangan kesadaran bahwa semua ini memang tidak adil.

Pada akhirnya hidup bukan tentang menemukan makna indah. Hidup tentang tidak tumbang meski maknanya sering kabur. Kita tidak dilahirkan untuk hidup dengan nyaman. Kita dilatih untuk bertahan dengan sadar. Dan siapa pun yang menolak belajar bertahan hanya sedang menyiapkan diri untuk kalah dengan alasan paling romantis.

Penulis dari Universitas Katolik Santo Thomas, Medan. Fakultas Ilmu Komputer.

Read Entire Article