Jakarta (ANTARA) - Ketua sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengatakan kebijakan imperialisme yang diterapkan Amerika Serikat (AS) di bawah Pemerintahan Presiden Donald Trump telah mempercepat perubahan dalam tatanan dunia yang baru.
"Kita tahu bahwa kebijakan luar negeri AS akan berbeda di bawah Trump, tetapi kita tidak memperkirakan sejauh mana kebijakan tersebut diberlakukan saat ini," kata Dino Patti, dalam Diskusi Publik FPCI bertajuk "Outlook on Geopolitical Trends & Indonesian Foreign Policy in 2026", Jakarta, Senin.
Dino, yang juga mantan Duta Besar RI untuk AS, mengatakan bahwa ketika orang-orang berbicara tentang imperialisme, hal itu dinilai tidak terlepas dari strategi penaklukan secara paksa dan agresif terhadap wilayah dan sumber daya negara lain.
Kebijakan tersebut juga meliputi penerapan hubungan yang tidak setara dengan negara lain, menindas dan tidak memperhatikan hukum internasional.
Kebijakan itu kini diterapkan oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Hal itu telah diakui sendiri oleh Trump.
Dino menilai kebijakan tersebut telah mempercepat terjadinya proses perubahan dalam tatanan dunia yang baru.
Dari sudut pandang FPCI, Dino mengatakan ada beberapa hal yang mendorong perubahan dalam tatanan dunia berikutnya, yaitu institusi, hukum-norma internasional, distribusi kekuasaan dan peran dari kekuatan-kekuatan tersebut, serta tatanan regional.
"Jadi, tatanan dunia adalah penjumlahan dari tatanan regional. Dan ketika tatanan regional berubah, tatanan dunia juga berubah sampai batas tertentu. Kemudian, pola konflik, kerja sama, persaingan, dan semua metrik ini, segala sesuatunya berubah," kata Dino.
"Bagi kalangan pembuat kebijakan luar negeri Indonesia, pertanyaan besarnya adalah apakah kita memahami bahwa ini adalah momen penting? Momen penting bahwa dunia benar-benar sedang bertransisi ke sesuatu yang lain. Dan apakah kita memahami apa ambisi kita?" ujarnya lebih lanjut.
Setiap momen, kata dia, selalu menghasilkan sesuatu. Oleh karena itu, Dino menilai masyarakat Indonesia saat ini tengah menantikan respons dari pemerintah Indonesia terhadap lahirnya tatanan dunia berikutnya tersebut dan seberapa besar ambisi Indonesia di tengah momen penting dalam hubungan internasional tersebut.
Sementara itu, Dino juga menambahkan bahwa peristiwa geopolitik paling signifikan saat ini adalah perpecahan di antara negara-negara Barat.
Negara-negara Barat, kata dia, merupakan kelompok yang paling terorganisir di antara kelompok lainnya.
"Barat telah menentukan agenda dunia, mengatur berbagai hal, membentuk dan mengendalikan berbagai hal, melindungi dan melestarikan tatanan dunia, dan sebagainya. Namun, Barat saat ini tengah mengalami kehancuran. Mereka tidak tahu bagaimana menanggapi apa yang sedang terjadi," katanya.
Fakta bahwa Barat kehilangan kendali dan tidak tahu harus berbuat apa dengan kegilaan kebijakan luar negeri AS, menurut Dino, dengan jelas menandakan bahwa di dalam tatanan dunia berikutnya, posisi Barat akan berubah dari posisinya saat ini.
Baca juga: CIFP 2025: Tatanan dunia baru ditandai kebangkitan kekuatan menengah
Baca juga: Dino Patti Djalal: Dunia masuki "Next World Order", RI harus berperan
Pewarta: Katriana
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

4 days ago
6






































