Ketika Sekolah Kehilangan Hati: Mencari Jalan Keluar Kekerasan di Ruang Kelas

1 day ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Tiga bocah berbincang di rel kereta api di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (16/7/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Banyak peristiwa di dunia pendidikan yang memilukan. Mulai dari peristiwa siswa mogok sekolah sebagai aksi dukungan terhadap teman yang ditegur oleh guru karena ketahuan merokok di sekolah, peristiwa pemukulan guru oleh siswa karena siswa merasa tidak terima ditegur oleh guru, hingga peristiwa yang paling memilukan yakni bunuh diri siswa di Kab. Ngada NTT akibat tidak bisa membeli pulpen dan buku.

Rangkaian peristiwa tersebut tidak bisa dipandang biasa karena terjadi berkaitan langsung dengan dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang. Memang tidak salah jika masyarakat beranggapan bahwa saat ini dunia pendidikan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Peristiwa tersebut bertentangan dengan hal yang seharusnya yakni tentang sekolah menjadi ruang aman emosional dan sosial. Hubungan siswa dan guru harusnya selaras sesuai dengan perannya di mana guru sebagai pendidik berperan untuk mendidik dan siswa harus siap untuk dididik. Pemahaman itu harusnya tertanam pada masing-masing individu (guru dan siswa) agar relasi emosional terjalin di antara keduanya.

Tidak hanya itu, sekolah juga harus menjadi ruang aman sosial di mana interaksi vertikal (guru dan siswa) dan horizontal (siswa dengan siswa) harus terjalin secara sehat. Guru hendaknya mendidik dengan humanis, begitupun siswa hendaknya bersosialisasi dengan humanis. Akan tetapi, mengapa ruang yang seharusnya memerdekakan justru menjadi tempat yang menekan?

Mencermati pertanyaan tersebut, penulis mencoba mengidentifikasi dimulai dari pola pembelajaran yang terlalu fokus pada kognitif (otak), tapi abai pada hati. Pola pembelajaran yang hanya berfokus pada penguatan aspek kognitif cenderung menciptakan individu yang cerdas secara intelektual namun gersang secara empati (Goelman, 1995).

Dalam konteks ini, sekolah bertransformasi menjadi pabrik nilai di mana siswa dipacu untuk menguasai materi secara teknis demi mengejar angka-angka di atas kertas, tanpa memahami esensi kemanusiaan di baliknya. Akibatnya, hubungan antara guru dan murid menjadi transaksional dan kaku di mana guru hanya dipandang sebagai penyampai informasi, sementara siswa kehilangan rasa hormat karena tidak ada keterikatan emosional yang terbangun dalam proses belajar-mengajar.

Krisis adab yang berujung pada kekerasan maupun kriminalisasi guru sering kali berakar dari minimnya ruang dialog yang tulus di dalam kelas, di mana interaksi hanya bersifat formalitas kurikulum tanpa sentuhan empati yang mendalam. Ketika kelekatan emosional antara guru dan murid tidak terbangun, sekolah kehilangan fungsinya sebagai ruang yang aman dan berubah menjadi lingkungan yang dingin, di mana teguran guru dianggap sebagai ancaman alih-alih sebagai bentuk kasih sayang, dan kesulitan siswa, baik secara ekonomi maupun psikologis luput dari pantauan.

Tanpa jembatan emosi yang kuat, upaya pendidikan dalam membentuk karakter siswa yang mampu menghargai kemanusiaan orang lain dan menahan diri dari tindakan impulsif yang merusak masa depan mereka sendiri hanyalah angan-angan.

Kondisi ini semakin diperparah oleh dilema yang dihadapi para pendidik, di mana guru sering kali terjebak di antara tuntutan profesionalitas, ketatnya regulasi, dan keterbatasan dukungan di lapangan. Guru dituntut untuk menjalankan fungsi pendisiplinan demi menjaga marwah pendidikan, namun di saat yang sama, mereka dibayangi oleh risiko kriminalisasi akibat regulasi yang sering kali disalahtafsirkan oleh orang tua dan pihak lainnya. Tanpa adanya sistem pendukung dan perlindungan hukum yang memadai, guru cenderung memilih sikap apatis atau "main aman" dalam mendidik, yang pada akhirnya memutus rantai bimbingan moral yang seharusnya diterima oleh siswa.

Pendekatan lama dalam pengelolaan disiplin dan pembelajaran di sekolah semakin menunjukkan keterbatasannya dalam menjawab kompleksitas relasi guru–siswa saat ini. Disiplin berbasis hukuman, baik dalam bentuk sanksi keras maupun kontrol otoriter, cenderung memicu perlawanan laten alih-alih kepatuhan yang bermakna. Praktik ini melahirkan kekerasan simbolik seperti mempermalukan, mengancam, atau meniadakan suara siswa yang dalam banyak kasus justru menjadi benih bagi tindakan kekerasan.

Ketika relasi pedagogis dibangun di atas rasa takut, sekolah kehilangan fungsinya sebagai ruang aman untuk belajar, gagal, dan bertumbuh secara utuh. Di sisi lain, meskipun kurikulum secara normatif memuat dimensi emosional dan moral, implementasinya sering kali tidak dioperasionalkan secara konsisten dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Sekolah masih minim akan learning climate yang ramah otak dan hati di mana lingkungan yang mendukung regulasi emosi, empati, dan rasa memiliki.

Kesenjangan antara tuntutan pedagogis yang semakin kompleks dan praktik pembelajaran yang masih bertumpu pada kontrol serta kepatuhan formal menuntut adanya reorientasi paradigma pendidikan. Sekolah tidak lagi cukup dipahami sebagai ruang transfer pengetahuan semata, melainkan sebagai ekosistem relasional yang memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan moral siswa secara simultan.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah pendekatan pembelajaran yang tidak hanya responsif terhadap cara otak bekerja, tetapi juga sensitif terhadap kebutuhan emosional dan kualitas hubungan antarindividu di dalamnya. Pendekatan semacam ini menjadi penting untuk memulihkan fungsi sekolah sebagai ruang aman dan bermakna, sekaligus mencegah reproduksi kekerasan yang berakar dari relasi pedagogis yang timpang.

Brain-Heart Synergistic Learning (BHSL) merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan proses belajar sebagai hasil integrasi utuh antara kerja otak, dimensi afektif, dan kualitas relasi sosial di sekolah. Domain brain merujuk pada pemahaman tentang bagaimana otak belajar secara alami, mencakup atensi, pengaturan emosi, dan kemampuan regulasi diri siswa.

Sementara itu, domain heart menekankan aspek afektif seperti empati, rasa aman secara psikologis, serta kehangatan relasi antara guru dan siswa. BHSL memandang bahwa pembelajaran yang efektif tidak cukup hanya merangsang kognisi, tetapi harus disertai dukungan emosional yang memungkinkan otak berada dalam kondisi optimal untuk belajar.

Brain-Heart Synergist...

Read Entire Article