Ketika 'Anjir' dan Kawan-kawannya Menjadi Bumbu Wajib Obrolan Mahasiswa

3 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
ilustrasi nongkrong di cafe. Sumber :Hasil foto sendiri

Beberapa waktu lalu, saya duduk di sebuah kedai kopi yang penuh sesak oleh mahasiswa. Di meja sebelah, sekelompok anak muda sedang berdiskusi seru tentang tugas kuliah. Namun, ada satu hal yang mengusik telinga: hampir di setiap jeda kalimat, terselip kata "anjir", "anjing", hingga berbagai kebun binatang dan istilah kotor lainnya. Menariknya, mereka mengucapkannya dengan wajah datar, tanpa rasa bersalah, bahkan diselingi tawa renyah.Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Sejak kapan makian bertransformasi menjadi tanda titik dan koma dalam percakapan generasi terpelajar kita?

Pergeseran Makna: Dari Amarah Menjadi Akrab

Dulu, kata-kata kasar adalah "peluru" yang dilepaskan hanya saat seseorang berada di puncak amarah atau dalam konflik fisik. Mengucapkannya di depan umum adalah tabu, dan melakukannya di lingkungan akademik adalah "bunuh diri" sosial.

Namun, hari ini kita melihat pergeseran semantik yang luar biasa. Bagi mahasiswa masa kini, kata "anjir" atau "bangsat" sering kali kehilangan taringnya sebagai umpatan. Kata-kata tersebut telah mengalami normalisasi. Ia beralih fungsi menjadi filler words (kata pengisi) atau penanda keakraban (solidarity marker). Semakin kasar panggilannya, seolah semakin tinggi tingkat kedekatan mereka.

Media sosial memainkan peran besar dalam orkestra ini. Konten kreator hingga influencer papan atas sering kali menggunakan bahasa "blak-blakan" tanpa sensor untuk terlihat otentik dan merakyat. Mahasiswa, sebagai konsumen utama konten digital, secara tidak sadar menyerap gaya komunikasi ini ke dalam kehidupan nyata.

Masalahnya adalah ketika batas antara ruang privat dan ruang publik menjadi kabur. Jika di tongkrongan bahasa ini dianggap "biasa", maka tanpa sadar ia akan terbawa ke forum yang lebih formal. Kita mulai kesulitan membedakan mana bahasa untuk bersenda gurau dengan teman satu kost, dan mana bahasa yang pantas digunakan dalam diskusi kelas atau saat berhadapan dengan dosen.

Krisis Artikulasi atau Sekadar Tren?

Ada kekhawatiran bahwa penggunaan bahasa kotor yang berlebihan mencerminkan kemiskinan diksi. Ketika seseorang tidak mampu mengekspresikan rasa kagum, mereka menyebut "Anjir, keren banget!". Ketika kecewa, "Anjir, parah banget!".

Kata "anjir" seolah menjadi alat serbaguna yang menggantikan kekayaan kosakata bahasa Indonesia. Padahal, sebagai mahasiswa—kaum intelektual yang diharapkan menjadi penjaga peradaban—kemampuan mengolah kata dan rasa seharusnya menjadi senjata utama.

Menimbang Kembali Etika Berbahasa

Tentu, kita tidak bisa sekadar melarang atau bersikap puritan. Bahasa itu dinamis dan akan selalu berubah mengikuti zaman. Namun, normalisasi bahasa kotor yang tidak terkontrol bisa mengikis rasa hormat dan etika berkomunikasi.

Menjadi "asik" dan "gaul" tidak harus dengan menggadaikan kesantunan. Kita perlu mengingatkan kembali bahwa kampus bukan sekadar tempat mengejar IPK, tapi juga tempat menyemai karakter. Jika bahasa yang keluar dari mulut kaum terpelajar saja sudah kehilangan "filternya", lantas apa yang bisa kita harapkan dari wajah komunikasi bangsa ini di masa depan?

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadikan makian sebagai bumbu wajib. Sebab, keakraban yang sejati tidak dibangun dari seberapa kasar kita memanggil teman, tapi dari seberapa berkualitas isi pembicaraan kita.

Read Entire Article