BRIN: Invasi AS ke Venezuela berisiko hambat investasi energi hijau

4 days ago 6
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai invasi Amerika Serikat ke Venezuela yang diikuti penguasaan cadangan minyak mentah dapat berakibat pada tertundanya investasi energi terbarukan

Akibatnya, hal itu dapat memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil bagi negara-negara berkembang, ungkap peneliti Tata Kelola Iklim Pusat Riset Politik BRIN, Yogi Setya Permana, melalui pernyataan pers di Jakarta, Senin.

Yogi mengatakan bahwa minyak murah sering kali menjadi jebakan kebijakan yakni tampak menguntungkan secara fiskal, tetapi meningkatkan kerentanan terhadap naik turun harga hingga risiko geopolitik.

“Di satu sisi, negara maju menekan negara berkembang untuk segera meninggalkan energi fosil demi target iklim. Di sisi lain, energi fosil tetap diperlakukan sebagai aset strategis yang diamankan melalui manuver geopolitik,” katanya.

Yogi menjelaskan bahwa langkah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro diikuti rencana menguasai Greenland memicu kekhawatiran serius bagi komitmen keadilan iklim global, termasuk bagi negara-negara berkembang Global South.

Amerika Serikat berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia dengan lebih dari 300 miliar barel. Hal ini, disebutnya, berpotensi membuat harga minyak mentah dunia makin melandai.

Langkah Amerika Serikat itu, menurut Yogi, akan menunda investasi energi terbarukan dan memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil bagi negara-negara berkembang.

Yogi menilai bahwa pada akhirnya negara berkembang akan menanggung konsekuensi paling berat, meski kontribusi historisnya terhadap emisi global relatif kecil.

“Konsep loss and damage menegaskan dampak perubahan iklim kerap melampaui kapasitas adaptasi suatu negara,” ujar Yogi.

Lebih lanjut, peneliti BRIN itu menjelaskan bahwa situasi saat ini, semakin menegaskan bahwa transisi energi tidak pernah berlangsung di ruang yang netral.

Ia juga menyoroti perintah Presiden AS Donald Trump pada 7 Januari lalu untuk keluar dari dari 66 organisasi internasional, termasuk badan-badan penting dalam kerjasama iklim global seperti UNFCCC (Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim) dan IPCC (Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim).

Menurut dia, langkah Trump tersebut hanya semakin menunjukkan bahwa Amerika Serikat menjauh dari negosiasi dan aksi iklim global.

“Ini adalah situasi problematis ketika aktor besar menjauh dari institusi multilateral kunci seperti UNFCCC dan IPCC, tepat ketika perundingan iklim internasional, seperti COP
ke-30 yang dideklarasikan sebagai COP of Truth,” kata Yogi.

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article