Nasabah menunjukkan emas BSI di Gedung BSI Tower, Jakarta, Selasa (15/4/2025). BSI menghadirkan layanan BSI Cicil Emas, BSI Gadai Emas dan BSI Emas yang dapat dilakukan melalui BYOND by BSI sebagai salah satu solusi instrumen investasi ditengah kondisi ketidakpastian global.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perbedaan emas digital syariah dan konvensional semakin mengemuka seiring berkembangnya layanan bank emas atau bullion bank di Indonesia. Pembeda utamanya terletak pada dasar transaksi yang digunakan dalam setiap produk.
Dalam skema syariah, transaksi emas wajib berbasis emas fisik. Dengan demikian, setiap saldo emas digital benar-benar mencerminkan kepemilikan emas yang nyata, bukan sekadar angka yang tercatat di aplikasi.
Pengamat perbankan syariah Abdul Hakam Najah menegaskan, kejelasan underlying asset menjadi fondasi utama dalam emas digital syariah. Dalam skema bank emas, yang ditabung nasabah bukan uang, melainkan emas dalam satuan gram.
“Kalau di bank umum yang disimpan itu uang, di bank emas basisnya adalah emas. Nasabah menabung berdasarkan gram emas, bukan angka nominal semata,” ujarnya dikutip, Selasa (10/2/2026).
Menurut Abdul Hakam, skema tersebut memastikan transaksi emas digital tidak berhenti pada pencatatan saldo. Emas yang ditransaksikan tetap memiliki wujud fisik dan dapat dicairkan kembali, baik dalam bentuk emas maupun rupiah, sesuai ketentuan yang berlaku.
“Artinya bukan hanya tercatat di angka saja,” ujarnya.

2 days ago
5







































