Gaza (ANTARA) - Hampir tiga bulan berlalu sejak gencatan senjata diberlakukan di Gaza, kondisi kemanusiaan di wilayah kantong pesisir yang terkepung tersebut menunjukkan perbaikan dalam beberapa hal, tetapi masih sangat memprihatinkan.
Situasi ini terjadi di tengah seruan internasional untuk meningkatkan upaya penyaluran bantuan dan meringankan penderitaan warga.
Penderitaan saat musim dingin
Meskipun gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober itu membawa ketenangan, konflik antara Hamas dan Israel tetap berlanjut, dengan kedua pihak saling tuduh melanggar kesepakatan tersebut. Otoritas kesehatan di Gaza melaporkan 424 orang tewas dan 1.199 orang lainnya terluka di Gaza sejak gencatan senjata tersebut.
"Saya tidak percaya ada gencatan senjata. Ini gencatan senjata palsu," kata Abu Mohammed al-Qeedra, ayah dari seorang korban tewas, kepada Xinhua di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, tempat jenazah korban dibawa dan keluarga berkumpul untuk berkabung.
Cuaca musim dingin memperburuk keadaan. Menurut otoritas kesehatan di Gaza, hingga akhir Desember 2025, tiga orang meninggal karena kedinginan, termasuk seorang bayi berusia dua bulan.
"Sejak awal musim dingin, kami kebanjiran sekali, dua kali, tiga kali. Semua terpal terangkat ke luar. Perlengkapan tidur basah kuyup, dan pakaian, semuanya kebanjiran," kata Om Mohammed, seorang wanita Palestina di Gaza City, kepada Xinhua.
"Orang-orang memberi saya mantel untuk melindungi diri dari hawa dingin. Semua di sekitar saya terendam air. Saya sangat lelah," kata Mohamed.
Bantuan yang tidak mencukupi
Setelah gencatan senjata, lebih banyak pasokan masuk ke Jalur Gaza, sedikit meringankan kelangkaan pangan.
Pada Januari, bantuan pangan bulanan untuk tiap keluarga disesuaikan menjadi dua paket pangan dan dua karung tepung masing-masing 25 kilogram, yang memenuhi kebutuhan kalori minimum, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA).
Itu merupakan kali pertama sejak Oktober 2023 mitra-mitra PBB memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi standar minimum, kata OCHA.
Di pasar-pasar Gaza, harga pangan telah turun, didukung oleh impor komersial yang berangsur-angsur pulih.
Pada pekan kedua Desember 2025, beberapa bahan pangan pokok, seperti tepung gandum dan minyak bunga matahari, bahkan dijual dengan harga di bawah harga sebelum perang, menurut Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) PBB.
Warga Palestina memeriksa kerusakan akibat serangan Israel yang menargetkan kamp pengungsi di Kota Gaza, pada 9 Januari 2026. (ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad) Saat ini, tidak ada wilayah di Jalur Gaza yang dikategorikan mengalami kelaparan, menurut analisis dari berbagai organisasi dan lembaga. Namun, organisasi PBB memperingatkan kemajuan ini "tetap sangat rapuh" karena warga Gaza masih terus bergumul dengan kerusakan besar pada infrastruktur serta hancurnya mata pencaharian dan produksi pangan.
"Pencapaian ini sangat rapuh, sangat berbahaya," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Desember 2025.
Menurut PBB, 1,6 juta orang di Gaza, atau setara lebih dari 75 persen populasi, diperkirakan akan menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang ekstrem dan risiko malanutrisi kritis.
Pengiriman bantuan masih tidak memadai dan dibatasi. Selama periode 10 Oktober hingga 16 Desember, sekitar 9.000 ton pasokan bantuan ditolak otoritas Israel untuk masuk ke Gaza, menurut laporan OCHA.
"Pada tahun baru ini, kami berharap ... harga-harga akan kembali seperti sebelum perang, dan orang-orang dapat kembali membeli kebutuhan sehari-hari mereka di mal seperti biasa, seperti di negara-negara lain," kata Amir Salah, seorang pedagang di Gaza City, kepada Xinhua.
Dampak perang
Konflik tersebut telah meninggalkan tantangan yang sangat besar bagi warga Gaza, termasuk bahan peledak yang tidak meledak (unexploded ordnance/UXO). Pada 18 Desember, tiga insiden ledakan bahan peledak menimbulkan korban di Jalur Gaza, menurut OCHA.
Pertempuran sengit antara pejuang Hamas dan pasukan Israel, serta perangkat peledak yang dipasang oleh kedua belah pihak, telah menyebabkan level kontaminasi yang "sangat parah," kata kepala Program Aksi Penanggulangan Ranjau PBB di Wilayah Palestina yang Diduduki Julius Van Der Walt.
Para murid berada di Sekolah Al-Shamal, yang berjarak hanya 100 meter dari "Garis Kuning" di Kamp Pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 12 Januari 2026. (ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Mohammed al-Shafea, seorang anak laki-laki Palestina di Gaza City, mengatakan kepada Xinhua bahwa keluarganya mendirikan tenda di kota tersebut setelah terpaksa mengungsi ke wilayah selatan Jalur Gaza
Kaki kirinya dibalut perban, dan punggungnya dipenuhi bekas luka.
"Kami sedang bermain di sana ketika tiba-tiba meledak, dan kami terlempar ke segala arah," kata Mohamed al-Shafea, seraya menunjuk ke area tidak jauh dari tenda.
Saat itu, mereka sedang mencari kayu untuk memasak.
"Kami mengangkat sesuatu, dan itu meledak. kata dia.
Sang ibu mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya karena sisa-sisa amunisi perang.
Tantangan lain yang dihadapi adalah pengelolaan sampah padat. Sejak Oktober 2023, diperkirakan kerusakan pada sistem pengelolaan sampah padat dan medis mencapai 66 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.853), menurut laporan OCHA.
Di seluruh Jalur Gaza, anak-anak terlihat berlarian di antara tumpukan sampah, bahkan banyak yang bermain di atasnya. Ketika hujan turun, air limbah meluap dari tumpukan sampah itu.
Para ahli medis memperingatkan hal ini dapat meningkatkan risiko kesehatan dan mempercepat penyebaran penyakit.
Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

6 hours ago
1




































