Nilai rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dikeluarkan Kemendikdasmen pada bulan Desember 2025 memperlihatkan potret terkini kualitas siswa SMA/SMK di Indonesia, paling tidak pada aspek kognitif. Misalnya nilai rata-rata pada mata pelajaran wajib tidak mencapai angka 60 (skala 0 - 100), yaitu mata pelajaran Matematika adalah 36,1 , Bahasa Indonesia sebesar 55,3 dan Bahasa Inggris adalah 24,9. Patut diingat pula bahwa tujuan diberikannya TKA adalah pelaporan capaian akademik individu murid dari penilaian yang terstandar. Jika saat ini kemampuan siswa berada pada tingkatan tersebut, bagaimana saat teknologi AI (artificial intelligence atau selanjutnya kita sebut sebagai Akal Imitasi) menjadi alat utama dalam kehidupan sehari-hari. Apakah AI akan membantu meningkatkan atau malah mendegradasi kemampuan kognitif mereka?
Hari-hari ini tidak hanya dunia pendidikan yang cemas akan pengaruh Akal Imitasi, dunia industri sudah terkena dampaknya. Publikasi dari firma konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas, menyampaikan bahwa AI menjadi pemicu terjadinya 55.000 kasus PHK di tahun 2025 di Amerika Serikat (AS). Meskipun demikian masih ada kemungkinan perusahaan menyalahkan AI (AI-washing) dalam proses PHK tersebut.
The Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan oleh World Economic Forum pada 7 Januari 2025 menyampaikan bahwa sejak 2025 hingga 2030, diperkirakan akan ada 92 juta pekerjaan yang tergeser, namun akan tercipta 170 juta peran baru. Lebih terperinci lagi, pada halaman Economy Profile untuk negara Indonesia, dari para pengusaha yang disurvei tentang strategi menggunakan AI di perusahaan mereka, rata-rata menunjukkan persentase kebutuhan pekerja yang mampu menggunakan AI lebih tinggi di Indonesia dibandingkan rata-rata global (lihat gambar).
Akal Imitasi, Model Bahasa Besar dan Chatbot
Istilah Akal Imitasi merupakan pemadanan yang lebih tepat terhadap Artificial Intelligence dibanding Kecerdasan Buatan, selain karena disingkat sama-sama menjadi AI, juga karena kata ‘imitasi’ menunjuk pada ide ‘tiruan’, tidak hanya ‘buatan’. Pada prakteknya, jika seseorang menyebutkan bahwa dia menggunakan AI, maka biasanya yang dia maksud adalah menggunakan aplikasi Large Language Model (LLM atau Model Bahasa Besar) untuk menghasilkan tulisan, gambar atau audio. LLM di sini adalah istilah yang lebih tepat dibandingkan AI, sebab AI mencakup teknologi yang lebih luas, misalnya kemampuan komputer sebagai pengendara mobil untuk mengambil keputusan yang aman saat berkendara di jalur padat lalu lintas dan minim marka jalan. Penggunaan LLM untuk menghasilkan berbagai bentuk informasi di atas, biasanya diistilahkan sebagai Generative AI. Contohnya, huruf G pada Chat GPT adalah Generative dan aplikasi ini disebut sebagai Generative Artificial Intelligence (GenAI) chatbot. Jenis chatbot atau 'bot obrolan' tentu bukan hanya ChatGPT dari OpenAI, terdapat produk teknologi lain misalnya Gemini dari Google, Grok dari X dan Claude dari Anthropic.
Bagaimana kualitas jawaban chatbot tersebut? Industri AI memiliki banyak parameter yang dapat dibandingkan pada berbagai jenis chatbot tadi. Mulai dari kemampuan memberikan informasi faktual (tidak menghayal atau fiktif), sampai dengan kemampuan berpikir dalam bidang tertentu, matematika misalnya, setara dengan matematikawan lulusan S3 atau doktoral. Berdasarkan klaim di laman masing-masing, pada awal 2026 ini Chat GPT dan Gemini berhasil mendapatkan skor di atas 95% dalam AIME (American Invitational Mathematics Examination).
Selain penilaian di atas, terdapat pula pemeringkatan yang langsung berdasarkan pada penilaian pengguna. Jika kita buka laman LMArena (atau Arena) saat ini (4 Februari 2026), kita akan melihat pada Leaderboard, berada di puncak penilaian tertinggi untuk keseluruhan aspek adalah LLM Gemini-3-pro, diikuti di tempat kedua adalah Grok-4.1-thinking, dan ketiga adalah Gemini-3-flash. Sementara jika melihat pada salah satu aspek saja seperti kemampuan mengonversi teks menjadi gambar, maka Chat GPT menduduki peringkat teratas (gpt-image-1.5-high-fidelity). Tentu dengan dinamisnya pengembangan teknologi LLM, peringkat ini dapat berubah hanya dalam hitungan beberapa minggu saja.
Akal Imitasi dan Kecerdasan Siswa
Dengan kualitas seperti itu dan terbukanya penggunaan bebas oleh siswa, bagaimana chatbot akan mempengaruhi kualitas siswa (atau mahasiswa) dalam kemampuan kognitif mereka? Pertanyaan ini dapat saja dilanjutkan menjadi bagaimana chatbot dapat mempengaruhi kualitas penelitian dari para peneliti? Namun dalam tulisan ini, mari kita sepakati hanya terbatas pada kemampuan kognitif pada subjek siswa dan mahasiswa saja. Barangkali pertanyaan yang lebih meresahkan adalah siapkah sumber daya manusia penduduk Indonesia ini untuk bersaing di tengah luasnya dan derasnya penggunaan AI?
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (kini menjadi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi) sesungguhnya sudah menerbitkan panduan penggunaan AI (Generative AI atau disingkat GenAI) di perguruan tinggi pada tahun 2024. Panduan tersebut mengatur, tidak hanya penggunaan oleh mahasiswa, namun juga dosen. Bahkan saya menemukan ada empat bab (dari total 6 bab) yang berisi panduan cara penggunaan teknologi GenAI yang bertanggung jawab, keputusan yang tepat di tengah cepatnya perkembangan teknologi ini. Selain dari empat bab tersebut, terdapat satu bab (yaitu bab III) yang menjelaskan tiga tema utama yang sangat penting untuk disadari, yaitu tantangan, literasi dan etika penggunaan GenAI.
Tantangan dan Literasi GenAI
Tantangan penggunaan GenAI salah satunya berasal dari adanya bias jawaban chatbot LLM. Bias jawaban tersebut misalnya dapat mengarah pada rekomendasi yang tidak akurat dan disinformasi (halama...

1 week ago
8







































